Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Politik sering kali menjadi sangat ramai menjelang pemilihan umum. Spanduk mulai bermunculan, pertemuan dengan masyarakat semakin banyak, media sosial dipenuhi berbagai pesan politik, dan para calon pemimpin berlomba-lomba menyampaikan gagasan serta janji kepada rakyat. Namun menurut saya, politik yang baik tidak boleh hanya hidup ketika pemilu semakin dekat. Politik harus hadir setiap hari melalui kerja nyata, pelayanan kepada masyarakat, serta keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat. Kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui baliho, slogan, pidato, atau popularitas di media sosial. Kepercayaan lahir dari konsistensi. Masyarakat akan melihat siapa yang tetap hadir ketika tidak ada pemilu, siapa yang mau mendengar ketika warga mempunyai persoalan, dan siapa yang benar-benar bekerja ketika sorotan kamera sudah tidak ada.
Politik Harus Kembali kepada Tujuan Utamanya
Pada dasarnya, politik merupakan salah satu jalan untuk mengelola kepentingan masyarakat dan menentukan arah kehidupan bersama. Karena itu, politik seharusnya tidak semata-mata berbicara mengenai perebutan jabatan atau kekuasaan. Kekuasaan hanyalah alat. Tujuan akhirnya harus tetap kesejahteraan masyarakat. Menurut saya, seorang politisi harus selalu bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa jabatan yang diberikan rakyat itu digunakan? Apakah untuk memperluas pengaruh pribadi atau membantu masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih baik? Apakah untuk membangun popularitas atau menyelesaikan persoalan yang benar-benar dirasakan warga? Pertanyaan seperti ini penting karena politik akan kehilangan maknanya apabila hubungan antara pemimpin dan masyarakat hanya muncul ketika suara rakyat sedang dibutuhkan.
Rakyat Membutuhkan Bukti, Bukan Hanya Janji
Masyarakat hari ini semakin kritis. Informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital. Rekam jejak seorang pejabat maupun politisi juga semakin mudah diketahui. Karena itu, menurut saya, zaman ketika masyarakat hanya dapat diyakinkan melalui slogan semakin berkurang. Rakyat membutuhkan bukti. Ketika berbicara mengenai UMKM, masyarakat ingin melihat apakah pelaku usaha benar-benar mendapatkan kemudahan perizinan, pendampingan, akses pasar, dan pembiayaan. Ketika berbicara mengenai lapangan pekerjaan, masyarakat ingin mengetahui apakah peluang kerja benar-benar bertambah. Ketika berbicara mengenai pelayanan publik, masyarakat ingin merasakan apakah mengurus administrasi menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan. Ketika berbicara mengenai pembangunan, masyarakat ingin melihat apakah jalan, sekolah, fasilitas kesehatan, lingkungan, dan pelayanan dasar benar-benar semakin baik. Ukuran keberhasilan politik pada akhirnya bukan seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Jangan Datang kepada Rakyat Hanya Ketika Membutuhkan Suara
Salah satu tantangan dalam kehidupan politik kita adalah munculnya kesan bahwa masyarakat sangat diperhatikan menjelang pemilu, tetapi setelah pemilu selesai komunikasi menjadi semakin berjarak. Menurut saya, kebiasaan seperti ini harus berubah. Politisi harus membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat. Mendatangi warga tidak selalu harus membawa agenda politik. Mendengarkan keluhan masyarakat juga tidak harus menunggu masa kampanye. Justru ketika seorang wakil rakyat hadir secara konsisten, masyarakat akan melihat bahwa hubungan tersebut bukan sekadar hubungan antara calon dan pemilih, tetapi hubungan antara wakil rakyat dan warga yang diwakilinya. Sebagai Anggota DPRD Kota Depok, saya melihat bahwa banyak persoalan masyarakat sebenarnya dapat diketahui lebih cepat apabila komunikasi antara warga dan wakil rakyat berjalan dengan baik. Ada persoalan administrasi, perizinan, pertanahan, lingkungan, pelayanan pemerintah, UMKM, hingga berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian. Karena itu, politik harus mempunyai telinga yang mau mendengar sebelum mempunyai mulut yang banyak berbicara.
Partai Politik Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada individu politisi. Partai politik juga mempunyai tanggung jawab besar. Menurut saya, partai politik tidak boleh hanya aktif ketika merekrut calon legislatif atau menghadapi pemilu. Partai harus menjadi tempat masyarakat menyampaikan aspirasi, tempat kader belajar melayani, serta ruang lahirnya gagasan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Kaderisasi juga menjadi sangat penting. Partai yang kuat bukan hanya partai yang mempunyai tokoh populer, tetapi partai yang mampu melahirkan banyak kader berkualitas, mempunyai integritas, memahami persoalan masyarakat, serta siap bekerja dari tingkat paling bawah. Kader harus dibiasakan turun ke masyarakat, berdialog, memahami pelayanan publik, mempelajari hukum dan pemerintahan, serta mengetahui persoalan ekonomi rakyat. Dengan begitu, politik tidak hanya menghasilkan orang yang pandai berkampanye, tetapi juga menghasilkan pemimpin yang siap bekerja.
Kritik adalah Bagian dari Demokrasi
Dalam kehidupan politik, tentu akan selalu ada perbedaan pandangan. Pemerintah dapat memperoleh dukungan sekaligus kritik. Partai politik juga dapat berbeda pendapat mengenai berbagai kebijakan. Menurut saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan itu disampaikan. Kritik seharusnya memberikan jalan keluar, bukan sekadar mencari kesalahan. Dukungan juga tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengingatkan apabila terdapat kebijakan yang perlu diperbaiki. Politik yang sehat membutuhkan keberanian untuk mendukung yang benar, mengkritik yang kurang tepat, dan menawarkan solusi yang lebih baik. Pada akhirnya, pemerintah maupun lembaga politik mempunyai tujuan yang sama, yaitu menjaga negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Generasi Muda Jangan Apatis terhadap Politik
Saya juga melihat generasi muda mempunyai peranan semakin besar dalam menentukan arah politik Indonesia. Anak muda sekarang mempunyai akses informasi yang jauh lebih luas. Mereka kritis, kreatif, cepat beradaptasi terhadap teknologi, serta mempunyai keberanian menyampaikan pendapat. Namun generasi muda jangan hanya menjadi penonton. Menurut saya, politik membutuhkan lebih banyak anak muda yang mempunyai gagasan, integritas, kompetensi, dan keberanian untuk bekerja. Tidak semuanya harus menjadi anggota legislatif atau kepala daerah. Partisipasi politik juga dapat dilakukan melalui organisasi, kegiatan sosial, diskusi publik, pengawasan kebijakan, dunia akademik, kewirausahaan, serta berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Semakin banyak anak muda yang memahami politik secara sehat, semakin kuat pula kualitas demokrasi kita.
Kepercayaan adalah Modal Politik Terbesar
Dalam dunia politik, jabatan mempunyai batas waktu. Masa kampanye juga mempunyai batas waktu. Popularitas dapat naik dan turun. Namun kepercayaan masyarakat mempunyai nilai yang jauh lebih besar. Kepercayaan tidak dapat dibeli dalam waktu singkat. Ia dibangun melalui sikap, rekam jejak, konsistensi, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesediaan tetap bekerja meskipun tidak selalu mendapatkan pujian. Karena itu, menurut saya, siapa pun yang memilih jalan politik harus memahami bahwa masyarakat akan selalu menjadi hakim terakhir. Politik yang bertahan bukan politik yang paling banyak membuat janji, tetapi politik yang mampu membuktikan janji melalui kerja nyata.
Pemilu memang penting karena di sanalah rakyat memberikan mandat. Namun setelah pemilu selesai, pekerjaan yang sebenarnya justru dimulai. Wakil rakyat harus bekerja, pemerintah harus melayani, partai politik harus terus hadir, dan masyarakat harus tetap mengawasi. Saya percaya politik Indonesia akan semakin baik apabila semakin banyak orang memandang politik sebagai jalan pengabdian, bukan semata-mata jalan menuju kekuasaan. Jangan hanya hadir ketika membutuhkan suara rakyat. Hadirlah ketika rakyat membutuhkan kita. Karena kepercayaan masyarakat tidak dibangun dalam satu musim pemilu, tetapi melalui kerja nyata setiap hari.
