Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” — Galatia 6:7
Firman Tuhan dalam Galatia 6:7 memberikan sebuah pengingat yang sangat kuat kepada kita semua bahwa hidup adalah menanam. Apa yang kita tabur melalui perkataan, tindakan, keputusan, sikap, dan cara kita memperlakukan orang lain, pada waktunya akan menghasilkan buah. Ada orang yang menanam kasih, kejujuran, kerja keras, kepedulian, pengampunan, dan pelayanan. Tetapi ada pula manusia yang tanpa sadar menanam kebencian, kebohongan, kesombongan, iri hati, pengkhianatan, dan tindakan yang merugikan orang lain. Firman Tuhan mengingatkan dengan tegas bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Manusia mungkin dapat menyembunyikan sesuatu dari manusia lain. Kesalahan mungkin dapat ditutupi. Kebohongan mungkin untuk sementara dapat dipercaya. Perbuatan yang salah mungkin belum diketahui banyak orang. Tetapi di hadapan Tuhan, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar tersembunyi. Karena itu, Galatia 6:7 bukan hanya berbicara mengenai berkat yang akan kita terima ketika berbuat baik. Ayat ini juga menjadi peringatan agar kita berhati-hati terhadap apa yang kita tanam dalam kehidupan. Menurut saya, setiap manusia sesekali perlu berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sedang saya tanam hari ini? Apakah saya sedang menanam kebaikan atau justru menyakiti orang lain? Apakah saya sedang membangun kepercayaan atau merusaknya? Apakah jabatan, pekerjaan, ilmu, rezeki, dan kesempatan yang Tuhan berikan sudah saya gunakan untuk memberikan manfaat kepada sesama? Pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari perenungan kita.
Lebih dari 30 Tahun Melayani Nasabah Mengajarkan Saya Arti Menanam
Dalam perjalanan kehidupan saya, lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sebagian besar perjalanan tersebut saya jalani dengan bertemu, berkomunikasi, dan melayani masyarakat sebagai pelayan nasabah, khususnya di wilayah Depok. Selama puluhan tahun tersebut, saya bertemu dengan ribuan masyarakat dengan berbagai latar belakang kehidupan. Ada pedagang kecil. Ada pelaku UMKM. Ada pekerja. Ada kepala keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada orang yang ingin mengembangkan usaha tetapi mempunyai keterbatasan modal. Ada pula masyarakat yang membutuhkan akses terhadap berbagai fasilitas perbankan. Dalam perjalanan pekerjaan tersebut, ribuan masyarakat pernah saya layani dan bantu memperoleh fasilitas kredit maupun berbagai manfaat layanan perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dari pengalaman itu saya belajar satu hal penting: Di balik setiap nasabah terdapat manusia yang sedang memperjuangkan kehidupannya.
Di balik sebuah permohonan kredit mungkin terdapat seorang ayah yang ingin membesarkan usahanya agar dapat membiayai sekolah anak-anaknya. Di balik modal usaha mungkin terdapat seorang ibu yang sedang berjuang mempertahankan ekonomi keluarganya. Di balik sebuah usaha kecil mungkin terdapat harapan besar untuk kehidupan yang lebih baik. Karena itu saya selalu berusaha melihat pekerjaan bukan sekadar sebagai persoalan angka, dokumen, target, atau administrasi. Ada unsur pelayanan di dalamnya. Kalau kita mempunyai kesempatan membantu seseorang sesuai kemampuan dan kewenangan yang kita miliki, menurut saya lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Sebab kita tidak pernah mengetahui seberapa besar arti pertolongan kecil kita bagi kehidupan seseorang.
Jangan Berbuat Baik Karena Mengharapkan Balasan
Dalam kehidupan, terkadang manusia mempunyai kecenderungan menghitung-hitung kebaikan. “Saya sudah membantu dia.” “Saya sudah melakukan banyak hal untuknya.” “Kenapa ketika saya membutuhkan pertolongan, dia tidak membantu saya?” Saya memahami perasaan seperti itu. Kita semua manusia. Kita dapat kecewa ketika kebaikan tidak dibalas dengan kebaikan. Tetapi menurut saya, kalau setiap pertolongan selalu kita hitung dan berharap dikembalikan oleh orang yang sama, kita akan mudah kecewa.
Kebaikan yang selalu menunggu balasan dapat berubah menjadi transaksi. Sedangkan kebaikan yang dilakukan dengan tulus adalah ketika kita membantu karena memang kita mempunyai kesempatan untuk membantu. Jika kemudian orang tersebut mengingatnya, bersyukurlah. Jika dia melupakannya, jangan menyesal telah berbuat baik. Sebab Tuhan mempunyai banyak cara untuk mengembalikan kebaikan kepada kehidupan kita. Dan sering kali Tuhan mengembalikannya bukan melalui orang yang pernah kita bantu.
Kebaikan Mempunyai Ingatan yang Panjang
Saya pernah mengalami sendiri bagaimana kehidupan mempunyai cara yang tidak pernah sepenuhnya kita rencanakan. Setelah puluhan tahun melayani masyarakat dalam dunia perbankan, perjalanan hidup membawa saya memasuki pelayanan masyarakat melalui dunia politik. Ketika saya mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di Kota Depok, saya merasakan dukungan dari banyak masyarakat. Ada yang mendoakan. Ada yang memberikan semangat. Ada yang membantu menyampaikan kepada keluarga, saudara, teman, dan lingkungannya. Ada yang memberikan tenaga dan pemikiran. Dan ada pula yang memberikan kepercayaan melalui suara dalam pemilihan. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang pernah saya kenal selama perjalanan panjang melayani masyarakat. Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa kebaikan mempunyai ingatan yang panjang.
Kita mungkin sudah lupa pernah membantu seseorang. Tetapi orang yang pernah merasakan ketulusan kita belum tentu melupakannya. Saya tidak melihat hal itu sebagai alasan untuk kemudian berbuat baik supaya suatu hari mendapatkan dukungan. Justru sebaliknya. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kita tidak perlu menghitung kapan kebaikan akan kembali.
Lakukan saja yang terbaik ketika Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukannya. Biarkan Tuhan mengatur bagaimana perjalanan kehidupan berikutnya.
Dari Pelayan Nasabah, Pelayan Gereja, Hingga Pelayan Masyarakat
Jika saya melihat kembali perjalanan kehidupan yang telah saya jalani, ada satu kata yang selalu hadir dalam setiap tahapnya: pelayanan. Ketika bekerja di Bank BRI, saya belajar menjadi pelayan nasabah. Dalam kehidupan bergereja, ketika diberikan kepercayaan menjadi penetua, saya belajar bahwa pelayanan kepada Tuhan juga berarti belajar mengasihi, mendengar, memperhatikan, dan melayani sesama manusia. Hari ini, ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepada saya menjadi Anggota DPRD Kota Depok, saya kembali belajar menjadi pelayan masyarakat. Tempat pelayanan berubah. Tanggung jawab berubah. Jabatan berubah. Usia juga terus bertambah. Tetapi prinsip kehidupan seharusnya tetap sama: Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri.
Menurut saya, jabatan tidak boleh membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada masyarakat. Justru semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula kewajiban untuk memberikan manfaat. Jika kita mempunyai ilmu, gunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan pengetahuan. Jika kita mempunyai jaringan, gunakan untuk membuka kesempatan bagi orang lain. Jika kita mempunyai kemampuan ekonomi, jangan lupa kepada mereka yang membutuhkan. Jika kita mempunyai jabatan, gunakan kewenangan untuk memperjuangkan pelayanan yang lebih baik. Jika kita mempunyai kesempatan menjadi berkat, jangan menundanya.
Jangan Menunggu Kaya untuk Menjadi Saluran Berkat
Sering kali orang berpikir, “Nanti kalau saya sudah kaya, saya akan membantu orang.” Padahal menjadi berkat tidak selalu membutuhkan uang. Kita dapat membantu seseorang dengan memberikan informasi. Kita dapat membantu dengan memberikan kesempatan. Kita dapat membantu dengan memperkenalkan seseorang kepada orang yang tepat. Kita dapat membantu seseorang memahami pelayanan yang sebelumnya tidak dia mengerti. Kita dapat mendengarkan orang yang sedang mempunyai persoalan. Kita dapat memberikan nasihat. Kita dapat memberikan semangat. Kita dapat mendoakan. Bahkan terkadang sebuah kalimat sederhana seperti “Jangan menyerah. Masih ada jalan.” dapat memberikan kekuatan besar bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan. Karena itu jangan pernah merasa terlalu kecil untuk menjadi berkat. Tuhan dapat menggunakan siapa saja untuk menolong kehidupan orang lain.
Jangan Berhenti Menjadi Orang Baik Karena Pernah Dikecewakan
Tidak semua orang yang kita bantu akan mengingat kebaikan kita. Tidak semua orang yang kita percaya akan menjaga kepercayaan tersebut. Kita mungkin pernah membantu seseorang yang kemudian melupakan kita. Kita mungkin pernah memperjuangkan seseorang yang kemudian mengecewakan kita. Kita mungkin pernah memberikan kesempatan kepada seseorang, tetapi kesempatan itu justru disalahgunakan. Pengalaman seperti itu memang menyakitkan. Namun jangan sampai kesalahan orang lain mengubah hati kita menjadi keras. Jangan berhenti menjadi orang baik hanya karena pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu berterima kasih. Kebaikan kita bukan ditentukan oleh sikap mereka. Kebaikan kita adalah pilihan kita sendiri di hadapan Tuhan. Manusia mungkin tidak melihatnya. Manusia mungkin melupakannya. Tetapi Tuhan mengetahui isi hati dan setiap perbuatan manusia.
Kalau Hari Ini Hidup Sedang Berat, Jangan Berhenti Menanam
Ada masa dalam kehidupan ketika kita merasa semua yang kita lakukan belum menghasilkan apa-apa. Kita sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum terlihat. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban belum datang. Kita sudah berusaha menjadi baik, tetapi justru menerima kekecewaan. Kita sudah menolong banyak orang, tetapi ketika menghadapi kesulitan merasa berjalan sendiri. Pada saat seperti itu, jangan berhenti. Seorang petani tidak menanam benih hari ini lalu memaksa panen keesokan harinya. Ada waktu untuk menanam. Ada waktu untuk merawat. Ada waktu untuk menunggu. Dan ada waktu untuk menuai. Begitu pula kehidupan. Benih yang belum terlihat bukan berarti tidak sedang bertumbuh. Ada perjuangan yang membutuhkan waktu. Ada doa yang membutuhkan kesabaran. Ada proses yang sedang Tuhan gunakan untuk membentuk karakter kita. Karena itu jangan membandingkan perjalanan kehidupan kita dengan perjalanan orang lain.
Tetaplah bekerja. Tetaplah berdoa. Tetaplah berusaha. Tetaplah berbuat baik. Dan tetaplah percaya.
Galatia 6:7 Juga Mengajak Kita untuk Bertobat
Namun kita juga tidak boleh hanya mengambil bagian menyenangkan dari Galatia 6:7. Firman Tuhan mengatakan: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.”
Ini merupakan peringatan bagi kita semua. Tidak ada manusia yang sempurna. Saya pun tidak sempurna. Dalam perjalanan kehidupan, kita semua mungkin pernah melakukan kesalahan. Mungkin pernah berkata kasar kepada seseorang. Mungkin pernah membuat keputusan yang salah. Mungkin pernah menyakiti keluarga. Mungkin pernah mengecewakan orang yang mempercayai kita. Mungkin pernah berlaku tidak adil. Mungkin pernah mempunyai kesombongan. Mungkin juga pernah jauh dari Tuhan. Firman Tuhan mengajak kita bukan untuk menyembunyikan kesalahan, tetapi untuk menyadarinya. Kalau pernah salah, akuilah. Kalau pernah menyakiti, mintalah maaf. Kalau pernah berbohong, mulailah hidup dalam kejujuran. Kalau pernah mengecewakan keluarga, perbaikilah hubungan. Kalau pernah merugikan seseorang, sebisa mungkin perbaikilah kerugian tersebut. Kalau pernah jauh dari Tuhan, kembalilah. Jangan menunggu akibat datang baru menyesal. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, kita masih mempunyai kesempatan untuk menanam sesuatu yang baru.
Pertobatan bukan tanda kelemahan. Menurut saya, justru dibutuhkan keberanian besar bagi seseorang untuk mengakui: “Saya pernah salah dan saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.” Jangan gengsi meminta maaf. Jangan terlalu tinggi hati untuk mengakui kesalahan. Sebab jabatan, pendidikan, kekayaan, dan status sosial tidak pernah membuat manusia menjadi sempurna. Kita semua membutuhkan kasih dan pengampunan Tuhan.
Hidup Terlalu Singkat untuk Tidak Berguna
Pada akhirnya, manusia akan sampai pada satu titik di mana jabatan selesai. Pekerjaan selesai. Kekuasaan selesai. Harta yang dikumpulkan akan kita tinggalkan. Nama besar pun perlahan-lahan dapat dilupakan. Tetapi ada sesuatu yang dapat hidup jauh lebih lama daripada jabatan: manfaat yang pernah kita berikan kepada orang lain. Mungkin ada seorang pedagang yang usahanya berkembang karena pernah mendapatkan kesempatan. Mungkin ada seorang anak yang dapat melanjutkan pendidikan karena ekonomi keluarganya pernah terbantu. Mungkin ada seseorang yang tidak jadi menyerah karena pernah mendapatkan semangat. Mungkin ada keluarga yang hidupnya sedikit lebih baik karena pernah bertemu dengan seseorang yang mau membantu dengan tulus. Bagi saya, itulah salah satu ukuran keberhasilan kehidupan. Bukan hanya berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi juga: Berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena kita pernah hadir di dalamnya?
Jadilah Saluran Berkat
Saya percaya kehidupan terbaik bukanlah kehidupan yang hanya mengejar bagaimana kita memperoleh sebanyak-banyaknya. Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang juga bertanya: Apa yang dapat saya berikan? Jika Tuhan memberikan rezeki, jadilah saluran berkat. Jika Tuhan memberikan ilmu, bagikanlah. Jika Tuhan memberikan jaringan, gunakan untuk membuka jalan bagi orang lain. Jika Tuhan memberikan jabatan, gunakan untuk melayani. Jika Tuhan memberikan kesempatan menolong seseorang, jangan sengaja mempersulitnya. Kalau hari ini kita mempunyai sesuatu yang dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik, lakukanlah. Tidak perlu selalu menunggu penghargaan. Tidak perlu selalu menunggu ucapan terima kasih. Tidak perlu selalu diumumkan. Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh kita dan Tuhan.
Teruslah Menanam
Karena itu, selama Tuhan masih memberikan waktu kepada kita, teruslah menanam. Tanamlah kejujuran, meskipun dunia menawarkan jalan pintas. Tanamlah kasih, meskipun kita pernah disakiti. Tanamlah pengampunan, meskipun hati kita pernah terluka. Tanamlah kerja keras, meskipun hasilnya belum terlihat. Tanamlah kepedulian, meskipun tidak mendapatkan pujian. Tanamlah pelayanan, meskipun tidak ada kamera yang merekam. Tanamlah kebaikan, meskipun tidak ada yang menjanjikan balasan. Dan yang paling penting: Tanamlah iman kepada Tuhan dalam seluruh perjalanan kehidupan kita.
Saya percaya bahwa alam mempunyai prosesnya dan Tuhan mempunyai kuasa-Nya. Kita tidak perlu mengatur kapan, melalui siapa, dan dalam bentuk apa kebaikan harus kembali kepada kita. Tugas kita adalah menanam. Tuhan yang menentukan musim menuai. Kalau kebaikan kita dibalas manusia, bersyukurlah. Kalau tidak, jangan menyesal telah menjadi orang baik. Sebab tidak pernah rugi menjadi manusia yang membawa manfaat bagi sesama.
Hidup adalah menanam. Maka selama masih diberikan kesempatan, tanamlah sebanyak mungkin kebaikan.
Jangan menunggu kaya untuk membantu. Jangan menunggu mempunyai jabatan untuk melayani. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu kehilangan baru belajar menghargai. Dan jangan menunggu esok hari untuk melakukan kebaikan yang sebenarnya dapat kita lakukan hari ini.
Jadilah saluran berkat. Jadilah manusia yang kehadirannya memberikan manfaat. Karena pada akhirnya, bukan hanya berapa lama kita hidup yang akan dikenang, tetapi kebaikan apa yang pernah kita tanam selama Tuhan memberikan kehidupan kepada kita.
Firman Tuhan kembali mengingatkan: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” — Galatia 6:7
Tetaplah menanam kebaikan. Biarkan Tuhan yang menentukan bagaimana dan kapan kita akan menuainya.
