Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Politik Indonesia sedang memasuki masa ketika generasi baru semakin mendapat ruang untuk tampil. Anak muda tidak lagi hanya menjadi pemilih, pengamat, atau penonton dari berbagai keputusan politik, tetapi mulai masuk ke dalam partai, organisasi, pemerintahan, legislatif, dan berbagai ruang pengambilan kebijakan. Menurut saya, perkembangan ini harus kita sambut dengan baik karena regenerasi merupakan kebutuhan dalam demokrasi. Salah satu figur yang menggambarkan munculnya generasi baru tersebut adalah Kaesang Pangarep. Sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang berada pada posisi yang memberikan tanggung jawab besar untuk menunjukkan bahwa generasi muda bukan hanya mampu tampil di depan publik, tetapi juga mampu belajar, memimpin organisasi, menerima kritik, membangun kader, dan bekerja langsung bersama masyarakat.
Namun regenerasi politik tidak boleh hanya berbicara mengenai umur. Muda secara usia belum tentu berarti membawa politik baru. Politik baru harus terlihat dari gagasan, keberanian memperbaiki keadaan, cara berkomunikasi yang terbuka, serta kemauan untuk melayani masyarakat. Inilah tantangan generasi muda yang masuk ke dunia politik. Anak muda hari ini hidup dalam situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama teknologi digital, media sosial, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, serta arus informasi yang sangat cepat. Kondisi tersebut memberikan kelebihan karena generasi muda dapat memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan masyarakat lebih cepat. Namun pada saat yang sama, mereka juga menghadapi risiko politik yang hanya mengejar popularitas dan viralitas. Menurut saya, politik tidak boleh berhenti pada konten. Media sosial merupakan alat, bukan tujuan. Seorang politisi dapat mempunyai jutaan penonton di internet, tetapi ukuran sebenarnya tetap berada pada kemampuan memahami persoalan rakyat dan memperjuangkan penyelesaiannya.
Karena itu, generasi muda yang masuk politik harus berani turun langsung ke masyarakat. Datang ke kampung, pasar, sekolah, tempat usaha, komunitas, lingkungan pekerja, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Dengarkan persoalan mereka mengenai pekerjaan, pendidikan, biaya hidup, kesehatan, UMKM, perumahan, lingkungan, dan pelayanan publik. Politik akan kehilangan maknanya apabila hanya berbicara mengenai siapa mendapatkan jabatan. Politik seharusnya berbicara tentang bagaimana kekuasaan digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Kaesang dan para politisi muda lainnya mempunyai kesempatan untuk membuktikan hal tersebut. Mereka harus berani menunjukkan bahwa keterlibatan anak muda dalam politik dapat membawa cara kerja yang lebih terbuka, cepat, kreatif, dan dekat dengan masyarakat. Namun kesempatan tersebut juga harus disertai kemauan untuk belajar dari generasi yang lebih berpengalaman.
Menurut saya, regenerasi bukan berarti generasi lama harus disingkirkan dan generasi muda mengambil semuanya. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Generasi sebelumnya mempunyai pengalaman panjang, sedangkan generasi baru membawa energi, teknologi, kreativitas, dan perspektif berbeda. Apabila keduanya dapat saling belajar, kualitas kepemimpinan Indonesia akan semakin baik. Anak muda juga jangan takut masuk politik hanya karena melihat politik sebagai sesuatu yang kotor. Politik menjadi buruk apabila diisi oleh orang-orang yang tidak mempunyai kepedulian terhadap kepentingan publik. Kalau orang-orang baik, berintegritas, berpendidikan, dan mempunyai keberanian justru menjauh dari politik, ruang pengambilan keputusan akan tetap diisi oleh orang lain.
Karena itu, anak muda harus ikut mengambil bagian. Tetapi keterlibatan tersebut tidak selalu berarti harus menjadi anggota partai atau calon anggota legislatif. Ada banyak bentuk partisipasi. Anak muda dapat aktif dalam organisasi masyarakat, mengikuti diskusi kebijakan, mengawasi pelayanan pemerintah, menyampaikan kritik, membangun UMKM, bergerak dalam kegiatan sosial, menjadi akademisi, maupun ikut mengawal penggunaan anggaran publik.
Yang penting, jangan apatis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Indonesia membutuhkan anak muda yang berani bertanya ketika ada kebijakan yang tidak tepat, tetapi juga bersedia memberikan solusi. Jangan hanya mengkritik dari media sosial kemudian berhenti. Kritik akan lebih kuat apabila disertai data, gagasan, serta alternatif penyelesaian. Generasi baru politik juga harus mempunyai keberanian menjaga integritas. Kekuasaan selalu mempunyai godaan. Ketika seseorang memperoleh jabatan, akses, fasilitas, dan pengaruh, di situlah karakter diuji. Politisi muda harus menunjukkan bahwa jabatan bukan jalan untuk memperkaya diri, melainkan sarana untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Kaesang sebagai salah satu tokoh muda tentu juga akan terus mendapatkan penilaian masyarakat. Ada yang mendukung, ada yang mengkritik, dan ada pula yang masih menunggu pembuktian. Menurut saya, hal tersebut sangat wajar dalam demokrasi. Tidak ada tokoh politik yang seharusnya bebas dari kritik, termasuk tokoh muda.
Justru kritik dapat menjadi bagian dari proses pendewasaan seorang pemimpin. Yang diperlukan adalah kemampuan menerima kritik secara terbuka, memilah mana yang membangun, dan menjawabnya melalui kerja nyata. Partai politik juga mempunyai tanggung jawab besar membuka ruang bagi generasi muda. Jangan menjadikan anak muda hanya sebagai dekorasi kampanye atau alat menarik suara pemilih muda. Berikan mereka kesempatan belajar, memimpin, membuat kebijakan, mengelola organisasi, dan mengambil tanggung jawab. Di sisi lain, generasi muda yang mendapatkan kesempatan juga jangan merasa cukup hanya karena diberi posisi. Kesempatan harus dibayar dengan kompetensi dan kerja keras. Menurut saya, masa depan politik Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas regenerasi yang kita bangun hari ini. Tahun-tahun mendatang akan melahirkan semakin banyak kepala daerah, anggota legislatif, menteri, pengusaha, aktivis, dan pemimpin organisasi dari generasi muda.
Karena itu, proses belajar politik harus dimulai sekarang. Belajar mendengar. Belajar berbeda pendapat. Belajar mengelola organisasi. Belajar memahami hukum dan pemerintahan. Belajar mengenai ekonomi masyarakat. Dan yang paling penting, belajar bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab.
Kaesang dan generasi baru politik Indonesia mempunyai peluang besar, tetapi peluang tersebut harus dibuktikan melalui kerja. Nama besar mungkin membuka pintu, media sosial dapat memperluas perhatian, dan jabatan dapat memberikan kesempatan. Namun pada akhirnya masyarakat akan menilai dari hasil dan manfaat yang dirasakan.
Anak muda jangan hanya menjadi penonton ketika masa depan bangsa sedang ditentukan. Ikutlah berpartisipasi, berorganisasi, berdiskusi, mengawasi pemerintah, menyampaikan gagasan, dan bila mempunyai kemampuan serta panggilan pengabdian, jangan takut masuk ke dalam politik. Tetapi siapa pun tokoh dan apa pun partainya, masyarakat tetap harus menggunakan hak politiknya secara kritis dan mandiri.
Menurut saya, Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya berani tampil, tetapi berani bekerja; bukan hanya berani berbicara, tetapi berani mendengar; bukan hanya mengejar jabatan, tetapi siap memikul tanggung jawab.
Karena masa depan politik Indonesia tidak boleh hanya diwariskan kepada generasi berikutnya. Generasi muda harus ikut membangunnya mulai dari sekarang.
