Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” — Mazmur 51:12
Ada sesuatu yang sering kali lebih sulit dibersihkan daripada tangan yang kotor, pakaian yang terkena noda, atau rumah yang berantakan. Sesuatu itu adalah hati manusia. Tangan dapat dicuci dengan air. Pakaian dapat dibersihkan dengan sabun. Rumah dapat dirapikan. Tetapi hati yang dipenuhi iri hati, dendam, kesombongan, kebencian, keserakahan, kebohongan, dan kesalahan masa lalu membutuhkan sesuatu yang jauh lebih dalam: pertobatan dan pembaruan dari Tuhan. Mazmur 51 merupakan sebuah doa yang sangat dalam tentang penyesalan, pengakuan dosa, dan kerinduan untuk dipulihkan. Daud tidak meminta Tuhan sekadar memperbaiki penampilannya di hadapan manusia. Ia meminta Tuhan mengubah bagian terdalam dari dirinya. “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” Menurut saya, doa ini sangat relevan dengan kehidupan manusia saat ini. Kita hidup di zaman ketika penampilan sering kali lebih mudah diperhatikan daripada keadaan hati. Orang dapat terlihat baik di depan banyak orang, mempunyai jabatan, pendidikan, kekayaan, pekerjaan yang baik, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun semua itu tidak otomatis menunjukkan bahwa hatinya benar-benar bersih. Hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang benar-benar mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati.
Kita Bisa Menyembunyikan Kesalahan dari Manusia, Tetapi Tidak dari Tuhan
Manusia bisa membangun citra. Kita bisa tersenyum ketika sebenarnya sedang marah. Kita bisa berbicara tentang kasih ketika hati masih menyimpan kebencian. Kita bisa berbicara tentang kejujuran tetapi masih menyimpan kebohongan. Kita bisa menasihati orang lain tentang kesalahan, sementara diri sendiri masih bergumul dengan kesalahan yang sama. Karena itu, pertobatan yang sejati bukan sekadar mengubah apa yang terlihat dari luar. Pertobatan dimulai ketika manusia berani masuk ke dalam dirinya sendiri dan berkata, “Tuhan, ada yang salah dalam hidup saya. Tolong ubahlah hati saya.” Tidak mudah mengakui kesalahan. Ego sering membuat manusia mencari alasan. Kita lebih mudah mengatakan orang lain yang salah daripada mengakui bahwa kita juga mempunyai bagian dalam sebuah persoalan. Padahal kehidupan akan mulai berubah ketika kita berhenti menyembunyikan kesalahan dan mulai berani memperbaikinya.
Lebih dari 30 Tahun Menjadi Pelayan Nasabah Mengajarkan Saya Tentang Manusia
Dalam perjalanan hidup saya, lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pelayan nasabah, khususnya di wilayah Depok. Selama perjalanan tersebut, saya bertemu dengan ribuan masyarakat dengan berbagai latar belakang kehidupan. Saya berkesempatan membantu masyarakat mendapatkan fasilitas kredit dan berbagai manfaat layanan perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Saya bertemu dengan pelaku usaha kecil, pedagang, pekerja, kepala keluarga, dan banyak masyarakat yang datang membawa harapan untuk memperbaiki kehidupan mereka. Dari perjalanan panjang tersebut saya belajar bahwa setiap manusia mempunyai cerita. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjuangan seseorang hanya dengan melihat apa yang tampak di luar. Seseorang yang terlihat kuat mungkin sedang menghadapi persoalan berat. Seseorang yang tersenyum mungkin sedang menyimpan kesedihan. Seseorang yang terlihat berhasil mungkin pernah melewati perjalanan yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Karena itu, pengalaman melayani ribuan nasabah mengajarkan saya untuk lebih banyak memahami daripada menghakimi. Kalau kita mempunyai kesempatan membantu seseorang, bantulah. Kalau kita bisa memberikan jalan, berikanlah. Kalau kita bisa memberikan semangat, kuatkanlah. Sebab kita tidak pernah tahu, mungkin pertolongan kecil yang kita berikan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup seseorang.
Kebaikan yang Tulus Akan Meninggalkan Jejak
Dalam perjalanan kehidupan saya, saya juga merasakan bahwa hubungan manusia tidak berhenti pada satu peristiwa. Ketika kemudian saya menjadi calon anggota legislatif di Kota Depok, banyak orang yang pernah saya kenal dan layani memberikan dukungan. Ada yang membantu dengan doa. Ada yang memberikan semangat. Ada yang menyampaikan kepada keluarga dan lingkungannya. Ada pula yang memberikan kepercayaan melalui suara. Bagi saya, hal tersebut menjadi pelajaran bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang. Kita mungkin lupa pernah membantu seseorang bertahun-tahun lalu. Tetapi orang yang pernah merasakan pertolongan kita mungkin masih mengingatnya. Namun saya percaya, kita tidak boleh berbuat baik hanya karena mengharapkan balasan. Berbuat baiklah karena kita mempunyai kesempatan untuk menjadi berkat. Kalau suatu hari kebaikan itu kembali kepada kita, bersyukurlah. Kalau tidak kembali melalui orang yang pernah kita bantu, jangan kecewa. Tuhan mempunyai banyak cara untuk bekerja dalam kehidupan manusia.
Tugas kita adalah melakukan yang terbaik. Tuhan yang menentukan hasilnya.
Dari Pelayan Nasabah, Penetua Gereja, Menjadi Pelayan Masyarakat
Dalam perjalanan hidup saya, ada satu kata yang terus mengikuti berbagai fase kehidupan saya: pelayanan. Ketika berada di Bank BRI, saya belajar menjadi pelayan nasabah. Ketika dipercaya menjadi penetua di gereja, saya belajar bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kepada sesama. Dan ketika hari ini dipercaya menjadi anggota DPRD Kota Depok, saya kembali belajar bahwa jabatan pada hakikatnya adalah amanah untuk menjadi pelayan masyarakat. Bagi saya, tiga bentuk pelayanan tersebut mempunyai satu nilai yang sama: memberikan manfaat bagi orang lain. Jabatan bukan alasan untuk meninggikan diri. Pendidikan bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Kekayaan bukan alasan untuk melupakan mereka yang sedang membutuhkan. Dan pengalaman bukan alasan untuk merasa paling benar. Justru semakin banyak yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin besar tanggung jawab kita untuk menggunakannya bagi kebaikan.
Jangan Hanya Membersihkan Wajah, Bersihkanlah Hati
Kita sering sibuk memperbaiki apa yang terlihat. Kita memperhatikan pakaian, rumah, pekerjaan, kendaraan, jabatan, dan penampilan. Semua itu tidak salah. Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan: keadaan hati. Apakah hati kita masih menyimpan dendam? Apakah kita masih iri melihat keberhasilan orang lain? Apakah kita masih sulit memaafkan? Apakah kita masih suka merendahkan orang lain? Apakah kita masih menyimpan kebohongan? Apakah kita masih menggunakan jabatan atau kemampuan untuk kepentingan diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin tidak nyaman. Tetapi terkadang justru pertanyaan yang tidak nyaman itulah yang perlu kita jawab dengan jujur. Sebab Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita tampilkan di depan manusia. Tuhan melihat hati.
Pertobatan Bukan Tanda Kelemahan
Ada orang yang menganggap meminta maaf adalah tanda kelemahan. Ada yang merasa mengakui kesalahan akan menjatuhkan harga dirinya. Ada pula yang terlalu gengsi untuk mengatakan, “Saya salah.” Menurut saya, justru sebaliknya. Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian. Meminta maaf membutuhkan kerendahan hati. Mengampuni membutuhkan kekuatan. Dan bertobat membutuhkan kejujuran kepada diri sendiri. Kalau kita pernah menyakiti orang lain, mintalah maaf. Kalau kita pernah mengecewakan keluarga, perbaikilah hubungan. Kalau kita pernah melakukan kesalahan, jangan terus mempertahankannya hanya karena gengsi. Jangan biarkan kesalahan masa lalu menjadi identitas kita selamanya. Masa lalu memang tidak dapat dihapus, tetapi masa depan masih dapat diperbaiki.
Tuhan Masih Memberikan Kesempatan
Selama Tuhan masih memberikan kita kehidupan, berarti masih ada kesempatan untuk berubah. Mungkin kita pernah gagal. Mungkin kita pernah salah mengambil keputusan. Mungkin kita pernah mengecewakan orang lain. Mungkin kita pernah terlalu jauh dari Tuhan. Tetapi jangan berpikir bahwa semuanya sudah terlambat. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Tidak perlu berpura-pura sempurna. Katakan kepada Tuhan apa adanya. Akui kelemahan kita. Serahkan luka kita. Minta Tuhan membersihkan hati kita dan memperbarui roh kita. Kehidupan baru tidak selalu dimulai dengan perubahan keadaan. Sering kali kehidupan baru dimulai dengan perubahan hati. Ketika hati berubah, cara kita melihat orang lain berubah. Cara kita berbicara berubah. Cara kita bekerja berubah. Cara kita melayani berubah. Dan pada akhirnya, cara kita menjalani kehidupan juga berubah.
Jadilah Saluran Berkat dan Bermanfaat
Saya percaya setiap manusia diberikan kesempatan untuk menjadi saluran berkat. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu mempunyai jabatan. Tidak harus menunggu menjadi orang besar. Dengan kemampuan yang kita miliki hari ini, kita sudah dapat melakukan sesuatu. Kalau kita mempunyai ilmu, bagikanlah. Kalau mempunyai kesempatan membantu, bantulah. Kalau mempunyai jaringan, bukalah jalan bagi orang lain. Kalau mempunyai jabatan, gunakan untuk melayani. Kalau mempunyai rezeki, sisihkan untuk membantu. Kalau belum mampu memberikan materi, berikan waktu, perhatian, doa, dan semangat.
Jadilah manusia yang kehadirannya membawa manfaat.
Saya percaya, ketika seseorang dengan tulus berbuat baik, alam kehidupan dan kuasa Tuhan juga dapat membuka jalan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Bukan berarti setiap kebaikan langsung mendapatkan balasan. Tetapi kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan tidak pernah sia-sia.
Sebelum Meminta Tuhan Mengubah Dunia, Mintalah Tuhan Mengubah Hati Kita
Kita sering berharap dunia menjadi lebih baik. Kita berharap pemimpin menjadi lebih baik. Kita berharap masyarakat lebih jujur. Kita berharap orang lain lebih menghargai kita. Kita berharap keluarga memahami kita. Tetapi mungkin pertanyaan pertama yang harus kita ajukan adalah: “Tuhan, apakah saya sudah menjadi bagian dari perubahan itu?” Jangan hanya meminta orang lain berubah. Izinkan Tuhan mengubah kita terlebih dahulu. Jangan hanya meminta orang lain menjadi jujur. Jadilah pribadi yang jujur. Jangan hanya meminta orang lain mengasihi. Belajarlah mengasihi. Jangan hanya meminta orang lain rendah hati. Rendahkanlah hati kita. Jangan hanya meminta orang lain bertobat. Beranilah bertobat. Karena perubahan yang besar sering kali dimulai dari satu hati yang mau berubah.
Doa untuk Hati yang Baru
Mazmur 51 mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sederhana tetapi sangat dalam: meminta hati yang tahir dan roh yang baru. Kiranya kita tidak hanya meminta Tuhan mengubah keadaan di sekitar kita, tetapi juga meminta Tuhan mengubah diri kita. Membersihkan hati dari kebencian, membersihkan pikiran dari iri hati, membersihkan hidup dari kesombongan, membersihkan perkataan dari kebohongan, dan membersihkan tindakan dari perbuatan yang merugikan sesama. Gantikan semuanya dengan kasih, kejujuran, kerendahan hati, pengampunan, kepedulian, dan ketulusan.
Sebab hidup yang baru tidak dimulai dari apa yang terlihat oleh manusia, tetapi dari hati yang diperbarui oleh Tuhan.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa hidup ini bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai posisi, seberapa banyak harta yang kita miliki, atau seberapa banyak orang mengenal nama kita. Hidup ini juga tentang seberapa banyak manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama dan seberapa sungguh kita hidup di hadapan Tuhan. Mari kita berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya kepada diri sendiri: Apa yang masih harus saya ubah? Siapa yang harus saya maafkan? Kepada siapa saya harus meminta maaf? Kesalahan apa yang harus saya tinggalkan? Dan kebaikan apa yang masih dapat saya lakukan? Jangan takut memulai kembali. Jangan malu mengakui kesalahan. Jangan gengsi meminta maaf. Jangan lelah berbuat baik. Mintalah kepada Tuhan hati yang bersih, roh yang baru, dan kehidupan yang lebih bermanfaat. Karena ketika hati kita diperbarui, hidup kita pun dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” — Mazmur 51:12
Mari berubah dari dalam. Mari bertobat. Mari mengampuni. Mari memperbaiki diri. Dan mari menjadi manusia yang hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi berkat dan bermanfaat bagi sesama.
