Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Dalam pendidikan, kita sering menganggap bahwa siswa berprestasi adalah mereka yang belajar paling lama. Padahal menurut saya, prestasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya waktu belajar, tetapi oleh bagaimana waktu tersebut digunakan. Belajar berjam-jam tanpa sistem yang tepat belum tentu lebih efektif daripada belajar dalam waktu lebih singkat tetapi dilakukan secara terarah, konsisten, dan terukur.
Bangun Sistem Belajar, Jangan Hanya Mengandalkan Motivasi
Motivasi dapat naik dan turun. Karena itu, kebiasaan belajar tidak boleh hanya bergantung pada suasana hati. Siswa perlu mempunyai rutinitas yang jelas, misalnya menentukan waktu tertentu untuk belajar, beristirahat, dan mengulang materi. Menurut saya, sistem yang dilakukan secara konsisten akan membentuk disiplin. Ketika belajar sudah menjadi kebiasaan, seseorang tidak lagi harus menunggu munculnya semangat untuk mulai belajar.
Buat Catatan yang Ringkas dan Mudah Dipahami
Belajar bukan sekadar menyalin seluruh isi buku. Catatan yang baik justru membantu kita menemukan inti materi, kata kunci, hubungan antargagasan, dan konsep yang penting. Materi yang panjang dapat diringkas menjadi beberapa halaman melalui diagram, peta konsep, atau catatan sederhana. Menurut saya, kemampuan merangkum menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya membaca, tetapi mulai memahami apa yang dipelajarinya.
Latih Diri Mengenali Pola Soal
Setelah memahami materi, siswa perlu berlatih mengerjakan berbagai soal, termasuk soal-soal dari tahun sebelumnya. Tujuannya bukan sekadar menghafal jawaban, tetapi mengenali pola pertanyaan, memahami cara penyelesaian, dan mengetahui bagian materi yang sering diuji. Semakin sering berlatih, semakin terlatih pula kemampuan berpikir dan mengambil keputusan ketika menghadapi soal.
Jangan Takut pada Kesalahan, Pelajari dan Perbaiki
Kesalahan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kegagalan. Justru dari kesalahan kita dapat mengetahui bagian mana yang belum benar-benar dikuasai. Menurut saya, siswa yang ingin berkembang harus mempunyai keberanian untuk memeriksa kesalahannya sendiri. Cari tahu mengapa jawaban salah, pahami kelemahannya, lalu perbaiki melalui latihan berikutnya. Kemajuan terjadi ketika kesalahan yang sama semakin sedikit diulangi.
Pada akhirnya, hasil belajar yang baik bukan semata-mata tentang berapa lama seseorang duduk di depan buku. Yang lebih penting adalah apakah ia mempunyai metode belajar yang benar. Sistem membangun konsistensi, catatan membantu pemahaman, latihan membentuk kemampuan, dan evaluasi terhadap kesalahan menghasilkan perbaikan.
Saran saya kepada generasi muda jangan hanya belajar lebih keras, tetapi belajarlah dengan lebih cerdas dan terarah. Bangun disiplin, pahami inti pelajaran, banyak berlatih, dan jangan pernah malu memperbaiki kesalahan. Karena pendidikan bukan hanya mengejar nilai, tetapi membentuk cara berpikir, kemampuan belajar, kedisiplinan, dan karakter untuk terus berkembang sepanjang kehidupan.(BN)
