Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Lukas 15:17–20 menceritakan saat anak yang hilang akhirnya menyadari keadaannya, bangkit, dan memutuskan kembali kepada bapanya. Ia berani berkata dalam hatinya bahwa dirinya telah salah dan harus pulang.
Kisah anak yang hilang merupakan salah satu gambaran pertobatan yang paling menyentuh dalam Alkitab. Ia meninggalkan rumah, mengambil keputusan menurut keinginannya sendiri, menghabiskan apa yang dimilikinya, dan akhirnya berada dalam keadaan yang sangat sulit. Tetapi titik balik kehidupannya terjadi ketika ia menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk kembali. Menurut saya, kisah ini sangat dekat dengan kehidupan manusia sampai hari ini. Kita mungkin tidak pergi meninggalkan rumah seperti anak yang hilang, tetapi manusia dapat “tersesat” dalam banyak bentuk. Ada yang salah mengambil keputusan. Ada yang salah menggunakan uang. Ada yang salah memilih pergaulan. Ada yang menyakiti keluarga. Ada yang menyalahgunakan kepercayaan. Ada yang menjadi sombong ketika mempunyai jabatan. Ada pula yang perlahan-lahan menjauh dari Tuhan karena terlalu sibuk mengejar dunia. Masalahnya bukan hanya bahwa manusia dapat melakukan kesalahan. Masalah yang lebih besar adalah ketika seseorang mengetahui dirinya salah tetapi terlalu gengsi untuk kembali. Padahal kehidupan dapat mulai berubah ketika seseorang mempunyai keberanian untuk berkata: “Saya salah, dan saya mau kembali.”
Jangan Menunggu Kehilangan Segalanya Baru Menyadari Kesalahan
Anak yang hilang baru tersadar setelah hidupnya berada dalam keadaan sangat sulit. Apa yang dimilikinya sudah habis. Orang-orang yang mungkin dahulu berada di sekelilingnya tidak lagi dapat menolong. Pada saat itulah ia mengingat rumah bapanya. Kisah ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita. Jangan menunggu kesehatan hilang baru mulai menjaga tubuh. Jangan menunggu keluarga menjauh baru belajar menghargai mereka. Jangan menunggu kepercayaan rusak baru belajar menjadi jujur. Jangan menunggu ekonomi berantakan baru belajar mengelola keuangan. Jangan menunggu jabatan selesai baru menyadari bahwa kesempatan melayani telah berlalu. Dan jangan menunggu hidup berada di titik paling bawah baru mencari Tuhan. Kalau hari ini kita sudah mengetahui ada sesuatu yang salah, perbaikilah sekarang. Pertobatan tidak harus menunggu semuanya hancur.
Kesalahan Tidak Harus Menjadi Akhir Kehidupan
Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Saya pun tidak sempurna. Setiap orang pasti pernah mengambil keputusan yang kemudian disesali, berkata sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, mengecewakan seseorang, atau berjalan terlalu jauh dari nilai-nilai yang sebenarnya kita yakini. Namun iman mengajarkan bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menjadi akhir dari perjalanan kita. Yang menentukan masa depan seseorang bukan hanya seberapa besar kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi apakah ia mempunyai keberanian untuk mengakuinya, belajar darinya, dan mengubah arah kehidupannya. Menyesal berkata, “Saya telah salah.” Pertobatan berkata, “Saya telah salah dan saya tidak mau terus hidup dengan cara yang sama.” Itulah yang dilakukan anak yang hilang. Ia bukan hanya menyesal. Ia bangkit dan pulang. Ada tindakan setelah kesadaran. Menurut saya, di situlah letak kekuatan pertobatan.
Lebih dari 30 Tahun Melayani Nasabah Mengajarkan Saya untuk Tidak Mudah Menghakimi
Lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pelayan nasabah, khususnya di wilayah Depok. Dalam perjalanan panjang tersebut, saya bertemu dengan ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang kehidupan. Saya berkesempatan membantu banyak masyarakat mendapatkan fasilitas kredit dan berbagai manfaat layanan perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ada pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja, kepala keluarga, dan orang-orang yang sedang berjuang memperbaiki kehidupannya. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa setiap manusia mempunyai cerita yang tidak selalu kita ketahui. Ada orang yang pernah salah mengelola usaha tetapi kemudian bangkit. Ada yang pernah mengalami kesulitan ekonomi tetapi terus bekerja hingga kehidupannya membaik. Ada yang datang dalam keadaan hampir menyerah, tetapi ketika diberikan kesempatan dan kepercayaan, mampu membangun kembali usahanya. Karena itu saya belajar untuk tidak mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan satu kegagalan. Orang yang pernah jatuh masih dapat bangkit. Orang yang pernah salah masih dapat berubah. Orang yang pernah kehilangan arah masih dapat menemukan jalan pulang. Kalau kita mempunyai kemampuan untuk membantu seseorang bangkit, menurut saya bantulah. Jangan justru mendorong orang yang sedang jatuh semakin dalam.
Pertolongan Kecil Bisa Mengubah Perjalanan Hidup Seseorang
Dalam dunia perbankan saya belajar bahwa sesuatu yang terlihat biasa bagi kita terkadang mempunyai arti besar bagi orang lain. Sebuah informasi, kesempatan, akses pembiayaan, penjelasan, atau pelayanan yang baik dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang. Karena itu, jangan meremehkan kesempatan untuk berbuat baik. Kalau kita bisa membantu, bantulah. Kalau kita bisa memberikan jalan, tunjukkanlah. Kalau kita bisa memberikan semangat, kuatkanlah. Kalau kita mempunyai jaringan, gunakanlah untuk membuka kesempatan. Kalau kita mempunyai jabatan, gunakanlah untuk memberikan pelayanan.
Hidup akan jauh lebih berarti ketika keberadaan kita membantu orang lain untuk bangkit, bukan membuat mereka semakin terpuruk.
Kebaikan yang Dilakukan dengan Tulus Akan Meninggalkan Jejak
Dalam perjalanan kehidupan saya sendiri, saya mengalami bagaimana hubungan baik yang dibangun selama bertahun-tahun mempunyai arti yang tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya. Ketika kemudian saya mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di Kota Depok, banyak masyarakat yang pernah saya kenal dalam perjalanan panjang pelayanan ikut memberikan dukungan. Ada yang mendoakan, memberikan semangat, membantu menyampaikan kepada keluarga dan lingkungannya, serta memberikan kepercayaan melalui suara. Bagi saya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kebaikan mempunyai jejak. Namun kebaikan jangan dilakukan dengan pikiran bahwa suatu hari orang tersebut harus membalas kita. Kalau kita berbuat baik hanya supaya mendapatkan balasan, kebaikan dapat berubah menjadi transaksi. Berbuat baiklah karena memang itulah yang seharusnya dilakukan. Kalau kemudian kebaikan itu kembali kepada kita, bersyukurlah. Kalau tidak, jangan menyesal pernah membantu. Saya percaya Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk bekerja dalam perjalanan kehidupan manusia.
Dari Pelayan Nasabah, Penetua Gereja, Hingga Pelayan Masyarakat
Kalau saya melihat perjalanan kehidupan yang saya jalani, ada satu kata yang terus mengikuti berbagai fase kehidupan saya, yaitu pelayanan. Ketika bekerja di Bank BRI, saya belajar menjadi pelayan nasabah. Ketika dipercaya menjadi penetua gereja, saya belajar bahwa pelayanan kepada Tuhan juga berarti mengasihi, mendengarkan, menguatkan, dan memperhatikan sesama. Hari ini, ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepada saya menjadi Anggota DPRD Kota Depok, saya kembali belajar menjadi pelayan masyarakat. Tempat pelayanan berubah. Tanggung jawab berubah. Tetapi prinsipnya seharusnya tetap sama: hidup harus memberikan manfaat. Jabatan bukan tempat untuk meninggikan diri. Jabatan adalah kesempatan untuk melayani. Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakan kesempatan tersebut bagi kepentingan dan kebaikan orang lain.
Kadang-kadang yang Harus Kita Tinggalkan Adalah Ego
Mengapa manusia sering sulit kembali setelah melakukan kesalahan? Salah satu jawabannya adalah ego. Kita takut dianggap kalah. Kita malu mengakui kesalahan. Kita takut kehilangan harga diri. Kita merasa kalau meminta maaf berarti kita lebih rendah daripada orang lain. Padahal menurut saya, justru dibutuhkan kekuatan besar untuk mengatakan, “Saya salah.” Anak yang hilang harus meninggalkan egonya sebelum pulang. Ia tidak pulang membawa kesombongan. Ia pulang dengan kerendahan hati. Begitu pula dalam kehidupan. Kalau kita pernah menyakiti pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, atau orang lain, jangan terlalu gengsi meminta maaf. Kalau kita pernah membuat keputusan yang salah, jangan terus mempertahankannya hanya supaya terlihat konsisten. Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan kesalahan yang kita sendiri sudah tahu salah. Keberanian terbesar kadang bukan terus maju, tetapi berani berhenti, berbalik, dan kembali ke jalan yang benar.
Jangan Takut Pulang kepada Tuhan
Ada orang yang merasa dirinya sudah terlalu jauh dari Tuhan. Merasa kesalahannya terlalu banyak. Merasa hidupnya terlalu kotor. Merasa tidak layak kembali. Kisah anak yang hilang menunjukkan sesuatu yang sangat indah: ketika anak itu pulang, bapanya tidak berdiri jauh sambil menghitung semua kesalahannya. Sang bapa menyambut kepulangannya. Pesan ini memberikan harapan bahwa pintu pertobatan tidak tertutup hanya karena masa lalu kita buruk. Jangan biarkan rasa bersalah membuat kita terus menjauh. Rasa bersalah seharusnya membawa kita kepada pertobatan, bukan kepada keputusasaan. Kalau pernah jauh, kembalilah. Kalau pernah salah, perbaikilah. Kalau pernah jatuh, bangkitlah. Kalau pernah mengecewakan, belajarlah menjadi lebih baik. Selama masih ada kehidupan, masih ada kesempatan untuk mengambil langkah yang baru.
Pulang Juga Berarti Memperbaiki Apa yang Masih Bisa Diperbaiki
Pertobatan bukan hanya berbicara antara manusia dengan Tuhan. Pertobatan juga harus terlihat dalam hubungan kita dengan sesama. Kalau pernah merugikan orang lain, sebisa mungkin perbaikilah. Kalau pernah berbohong, mulailah jujur. Kalau pernah menyakiti keluarga, pulihkanlah hubungan. Kalau pernah mengabaikan tanggung jawab, mulailah bertanggung jawab. Kalau pernah menggunakan jabatan hanya untuk kepentingan diri sendiri, kembalilah kepada tujuan pelayanan. Pertobatan yang nyata menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan oleh orang di sekitar kita. Tidak cukup hanya berkata, “Saya sudah berubah.” Biarkan tindakan kita yang membuktikannya.
Jangan Menghakimi Orang yang Sedang Berusaha Kembali
Ada satu hal yang juga perlu kita renungkan dari kisah ini. Ketika seseorang sedang berusaha memperbaiki hidupnya, jangan kita menjadi orang yang terus mengingatkan kesalahan masa lalunya. Kadang seseorang sudah berusaha berubah, tetapi lingkungan tidak memberikan kesempatan kedua. Setiap kesalahan lama terus diungkit. Setiap kegagalan terus digunakan untuk menghakimi. Menurut saya, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bertobat, siapa kita sehingga merasa berhak menutup seluruh pintu baginya? Tentu kesalahan mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab tetap harus dijalankan. Tetapi manusia juga membutuhkan kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik.
Jangan hanya pandai menunjukkan jalan yang salah. Kalau bisa, bantulah seseorang menemukan jalan pulang.
Jadilah Saluran Berkat
Hidup ini pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki. Lebih penting lagi adalah: berapa banyak manfaat yang dapat kita berikan? Tidak perlu menunggu kaya untuk menjadi berkat. Kalau mempunyai ilmu, bagikan. Kalau mempunyai pengalaman, gunakan untuk membimbing. Kalau mempunyai jaringan, bukalah kesempatan. Kalau mempunyai jabatan, gunakan untuk melayani. Kalau mempunyai rezeki, bantulah sesuai kemampuan. Kalau belum mampu memberikan materi, berikan waktu, perhatian, doa, dan semangat. Orang yang sedang kehilangan arah terkadang hanya membutuhkan seseorang yang berkata: “Jangan menyerah. Masih ada jalan untuk kembali.” Mungkin kalimat sederhana seperti itu dapat menyelamatkan harapan seseorang.
Jangan Menunggu Besok untuk Kembali
Pada akhirnya, kisah anak yang hilang mengajarkan bahwa perubahan dimulai ketika manusia sadar, bangkit, dan kembali. Bukan besok. Bukan ketika semua persoalan sudah selesai. Bukan setelah semuanya menjadi mudah. Tetapi ketika kita menyadari bahwa kita sedang berjalan di arah yang salah. Karena itu, kalau hari ini hati kita mengetahui ada sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan menunggu terlalu lama.
Kalau perlu meminta maaf, mintalah maaf. Kalau harus meninggalkan kebiasaan buruk, tinggalkanlah. Kalau hubungan perlu dipulihkan, perjuangkanlah. Kalau harus kembali kepada Tuhan, kembalilah.
Jangan menunggu kehilangan semuanya untuk menyadari betapa berharganya apa yang pernah kita miliki. Tuhan tidak mencari manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tuhan menghendaki hati yang mau sadar, merendahkan diri, bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Menurut saya, masa lalu adalah pelajaran, bukan penjara. Kita tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi dengan pertolongan Tuhan kita masih dapat menentukan bagaimana kita menjalani hari-hari berikutnya.
Sejauh apa pun kita pernah pergi, jangan takut untuk kembali. Sebesar apa pun kesalahan masa lalu, jangan berhenti memperbaiki diri. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, masih ada kesempatan untuk bangkit, bertobat, menjadi lebih baik, dan kembali menjadi saluran berkat bagi sesama.
Jangan menunggu kehilangan segalanya untuk pulang. Kalau hari ini kita menyadari bahwa kita berada di jalan yang salah, inilah waktunya untuk berkata: “Saya salah, saya mau berubah, dan saya mau kembali.”
