Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum
Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam seminar Koperasi Desa Merah Putih baru-baru ini menarik untuk dicermati. Dalam pidatonya, Zulkifli Hasan menyinggung tantangan menghadapi pasar bebas dan pentingnya masyarakat memiliki kekuatan ekonomi. Ia menyampaikan kurang lebih, “Untuk menghadapi pasar bebas kita membutuhkan duit banyak. Kalau kita ingin punya duit, tanam sawit, jangan tanam padi.”
Menurut saya, pernyataan tersebut jangan dipahami secara sederhana sebagai ajakan meninggalkan tanaman padi atau mengganti seluruh lahan pertanian menjadi perkebunan sawit. Pesan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat Indonesia mampu membangun kegiatan ekonomi yang produktif, memiliki nilai tambah tinggi, dan memberikan kesejahteraan yang lebih besar kepada petani. Kelapa sawit memang menjadi salah satu komoditas strategis Indonesia. Sawit memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi daerah, serta menjadi sumber penghidupan bagi banyak petani.
Namun, di sisi lain, padi juga tidak kalah penting. Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ketahanan pangan menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu, pembangunan ekonomi tidak boleh membuat Indonesia kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sendiri. Menurut saya, persoalannya bukan memilih sawit atau padi. Yang harus kita lakukan adalah menempatkan keduanya sesuai fungsi dan potensi wilayah masing-masing.
Daerah yang memiliki kesesuaian lahan untuk perkebunan dapat meningkatkan produktivitas sawit dan komoditas bernilai ekonomi tinggi lainnya. Namun, kawasan pertanian pangan produktif juga harus tetap dijaga agar produksi beras nasional tidak terganggu. Dalam konteks inilah keberadaan Koperasi Desa Merah Putih menjadi sangat penting. Koperasi harus mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat desa. Jangan sampai koperasi hanya berdiri secara administratif, tetapi tidak memberikan manfaat nyata kepada anggotanya. Koperasi dapat membantu petani memperoleh bibit berkualitas, pupuk, permodalan, teknologi pertanian, pengolahan hasil, hingga akses pasar. Melalui koperasi, petani juga dapat memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi pasar.
Petani sawit jangan hanya menjadi penjual tandan buah segar dengan posisi tawar yang lemah. Begitu juga petani padi jangan terus-menerus berada di bagian paling bawah dari rantai ekonomi dan hanya menikmati keuntungan yang kecil. Koperasi harus mampu mengonsolidasikan kekuatan masyarakat.
Saya sependapat bahwa menghadapi pasar bebas membutuhkan kekuatan modal. Namun, modal tidak selalu harus dimiliki oleh satu orang atau satu perusahaan besar. Kebersamaan masyarakat juga merupakan modal. Jika ribuan petani bergabung dalam koperasi, mengelola produksi secara profesional, membangun jaringan pemasaran bersama, dan mengembangkan industri pengolahan, maka kekuatan ekonomi rakyat akan menjadi jauh lebih besar. Yang perlu kita bangun adalah ekonomi rakyat yang mampu naik kelas. Sawit tidak boleh hanya menghasilkan bahan mentah. Kita harus memperkuat hilirisasi agar semakin banyak produk turunannya diolah di dalam negeri. Demikian pula dengan sektor pangan. Petani padi harus mendapatkan produktivitas yang lebih tinggi, biaya produksi yang lebih efisien, serta harga yang memberikan keuntungan layak.
Pemerintah juga harus memastikan pengembangan sawit dilakukan secara berkelanjutan. Peningkatan produksi sebaiknya diarahkan melalui peningkatan produktivitas, peremajaan kebun rakyat, penggunaan teknologi, serta pengelolaan lahan yang tertib, bukan semata-mata melalui pembukaan lahan baru yang dapat menimbulkan persoalan lingkungan maupun konflik pertanahan. Bagi saya, pesan menghadapi pasar bebas harus kita jadikan momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Indonesia membutuhkan komoditas yang mampu menghasilkan pendapatan besar, tetapi pada saat yang sama kita juga membutuhkan pangan yang cukup bagi seluruh rakyat.
Sawit dapat menjadi kekuatan ekonomi, sementara padi tetap menjadi penyangga ketahanan pangan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang harus diperjuangkan adalah agar petani Indonesia, melalui koperasi yang kuat dan pengelolaan yang profesional, menjadi pelaku utama dan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kekayaan negeri ini.
