Ketua DPD PSI Kota Depok menilai pesan Kaesang Pangarep menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa saat ini adalah menciptakan masyarakat yang cerdas, sejahtera, dan berkecukupan.
Depok – Kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa tidak boleh berhenti pada makna bebas dari penjajahan. Di tengah berbagai tantangan zaman, kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk kehidupan masyarakat yang lebih cerdas, lebih sejahtera, dan terbebas dari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok, Binton Nadapdap, S.Sos.,S.H.,M.M.,M.H., menanggapi pernyataan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang menyebut Indonesia harus merdeka dari kebodohan, kesengsaraan, dan kelaparan. Menurut Binton, pesan tersebut mencerminkan tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia dalam perjalanan menuju negara maju. Meski pembangunan terus berjalan, masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama agar manfaat kemajuan benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat. “Apa yang disampaikan Mas Kaesang sesungguhnya merupakan refleksi dari cita-cita bangsa. Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika rakyat memiliki akses pendidikan yang baik, kehidupan yang layak, dan tidak ada lagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan,” ujar Binton.
Binton menilai persoalan kebodohan menjadi tantangan utama yang harus mendapat perhatian serius. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia akan menentukan masa depan Indonesia dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat. Ia mengatakan bahwa pendidikan tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran semata, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan arah pembangunan bangsa. Selain pendidikan formal, masyarakat juga perlu dibekali kemampuan literasi digital, literasi hukum, serta keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. “Kita sedang memasuki era yang sangat kompetitif. Jika kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik, maka kita akan tertinggal. Karena itu pendidikan harus menjadi prioritas utama pembangunan nasional,” katanya. Selain persoalan pendidikan, Binton juga menyoroti kesengsaraan yang masih dirasakan sebagian masyarakat akibat tekanan ekonomi, keterbatasan lapangan kerja, dan kesenjangan kesejahteraan. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus mampu menghadirkan peluang yang merata bagi seluruh rakyat. Pemerintah perlu terus mendorong penguatan sektor UMKM, menciptakan iklim investasi yang sehat, serta memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda. “Pertumbuhan ekonomi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika rakyat memiliki pekerjaan, usaha berkembang, dan daya beli meningkat, maka kesejahteraan akan ikut tumbuh,” jelasnya.
Dalam pandangannya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat merasakan peningkatan kualitas hidup. Binton juga menegaskan bahwa persoalan kelaparan dan ketahanan pangan harus menjadi perhatian serius. Sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, Indonesia seharusnya mampu menjamin kebutuhan pangan seluruh rakyatnya. Ia mendorong penguatan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Selain itu, distribusi pangan yang merata dan terjangkau juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya kerawanan pangan di berbagai daerah. “Tidak boleh ada rakyat Indonesia yang tidur dalam keadaan lapar. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kemanusiaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Binton menilai pesan Kaesang Pangarep merupakan ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk kembali fokus pada substansi pembangunan, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju pada tahun 2045. Namun cita-cita tersebut hanya dapat terwujud apabila pembangunan manusia berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan infrastruktur. “Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai apabila kita berhasil melahirkan generasi yang cerdas, masyarakat yang sejahtera, dan bangsa yang kuat secara pangan. Karena itu, pesan untuk merdeka dari kebodohan, kesengsaraan, dan kelaparan harus menjadi semangat bersama dalam membangun Indonesia yang lebih baik,” pungkas Binton
Dengan demikian, pesan yang disampaikan Kaesang Pangarep bukan sekadar narasi politik, melainkan pengingat bahwa perjuangan bangsa saat ini adalah memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia, melalui pendidikan yang berkualitas, kesejahteraan yang merata, dan terpenuhinya kebutuhan dasar bagi seluruh warga negara.
