St. Binton Jhonson Nadapdap.,S.Sos., S.H.,M.M.,M.H.
Nas: Yesaya 56:1–8
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Firman Tuhan dalam Yesaya 56:1–8 menyampaikan pesan yang sangat kuat bagi kehidupan kita sebagai orang percaya. Tuhan menghendaki umat-Nya untuk memelihara keadilan, melakukan kebenaran, hidup setia kepada-Nya, serta membuka hati kepada semua orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Firman Tuhan berkata:
“Peliharalah hukum dan lakukanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku.”
(Yesaya 56:1)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman kepada Tuhan tidak cukup hanya dinyatakan melalui ibadah, doa, atau perkataan. Iman harus terlihat melalui kehidupan kita sehari-hari: melalui kejujuran, keadilan, kasih, kepedulian, dan cara kita memperlakukan sesama.
1. Tuhan Melihat Kesetiaan, Bukan Latar Belakang
Dalam Yesaya 56 disebutkan bahwa orang asing dan sida-sida pun diterima oleh Tuhan apabila mereka berpegang teguh kepada perjanjian-Nya dan hidup setia kepada-Nya. Pada zaman itu, mereka dapat dianggap sebagai kelompok yang berada di luar komunitas atau memiliki keterbatasan tertentu. Namun Tuhan menunjukkan bahwa mereka pun mempunyai tempat di rumah-Nya. Pesan ini sangat penting bagi kita.
Gereja bukan hanya milik kelompok tertentu. Rumah Tuhan terbuka bagi siapa saja yang sungguh-sungguh datang mencari-Nya. Tuhan tidak menilai seseorang berdasarkan suku, kekayaan, pendidikan, jabatan, kedudukan sosial, maupun latar belakang kehidupannya. Di hadapan Tuhan, yang terutama adalah iman, hati yang benar, dan kesetiaan kepada-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya, kita juga tidak boleh mudah membeda-bedakan atau merendahkan orang lain.
2. Teladan Alkitab: Rut
Salah satu tokoh Alkitab yang sangat sesuai dengan pesan Yesaya 56 adalah Rut. Rut adalah seorang perempuan Moab. Ia bukan berasal dari bangsa Israel. Secara latar belakang, ia adalah seorang asing. Namun Rut menunjukkan iman dan kesetiaan yang luar biasa kepada Tuhan dan kepada Naomi.
Rut berkata:
“Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.”
(Rut 1:16)
Kesetiaan Rut akhirnya membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Ia diterima di tengah umat Israel, menjadi istri Boas, dan kemudian menjadi bagian dari garis keturunan Raja Daud, bahkan masuk dalam silsilah Yesus Kristus. Dari kehidupan Rut kita belajar bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja yang sungguh-sungguh percaya dan setia kepada-Nya. Karena itu, jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena asal-usulnya, kondisi ekonominya, tingkat pendidikannya, pekerjaannya, atau masa lalunya. Kita mungkin melihat keterbatasan seseorang, tetapi Tuhan dapat melihat iman, kesetiaan, dan masa depan yang besar dalam hidupnya.
3. Semua Dipersatukan di Dalam Kristus
Pesan Yesaya 56 semakin ditegaskan dalam Galatia 3:28: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani… karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Di dalam Kristus, kita dipersatukan. Karena itu, tidak boleh ada kesombongan karena suku, pendidikan, kekayaan, jabatan, maupun kedudukan. Orang yang mempunyai jabatan tidak lebih berharga di hadapan Tuhan daripada orang sederhana. Orang yang kaya tidak lebih dikasihi Tuhan daripada orang yang miskin. Semua manusia berharga di hadapan Tuhan. Maka kehidupan bergereja seharusnya menjadi tempat di mana setiap orang merasa diterima, dihargai, dan dikasihi.
4. Rumah Tuhan Adalah Rumah Doa bagi Semua
Yesaya 56:7 berkata: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” Pesan ini kemudian kembali ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 21:13: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa.” Artinya, rumah Tuhan harus menjadi tempat di mana setiap orang dapat datang mencari Tuhan. Gereja harus menjadi rumah pengharapan, rumah kasih, rumah persaudaraan, dan rumah doa. Jangan sampai gereja justru menjadi tempat orang merasa dibedakan karena pakaian, pekerjaan, pendidikan, kondisi ekonomi, suku, maupun latar belakangnya. Sebaliknya, ketika seseorang datang kepada Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, kita harus menyambutnya dengan kasih.
Penutup
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Dari Yesaya 56:1–8, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita bawa pulang dalam kehidupan kita. Pertama, hiduplah benar di hadapan Tuhan. Jangan hanya menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi jadilah orang yang jujur, adil, dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, tetaplah setia kepada Tuhan. Seperti Rut yang tetap percaya dan setia sekalipun menghadapi kehidupan yang tidak mudah, kita pun dipanggil untuk tetap berpegang kepada Tuhan dalam segala keadaan. Ketiga, jadilah berkat bagi semua orang. Jangan membeda-bedakan manusia berdasarkan latar belakangnya. Belajarlah menerima, menolong, menguatkan, dan mengasihi sesama. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi orang yang diberkati, tetapi Tuhan juga ingin kehidupan kita menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat kasih Tuhan.
Hiduplah benar. Tetaplah setia. Dan jadilah berkat bagi semua.
Amin.
