Depok – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian berbagai kalangan. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah mengalami tekanan yang cukup signifikan di tengah dinamika ekonomi global, kenaikan harga energi dunia, serta meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan internasional. Sejumlah laporan bahkan mencatat rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, memicu kekhawatiran terhadap dampaknya bagi masyarakat dan pelaku usaha. Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kota Depok sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., mengingatkan bahwa perhatian utama pemerintah harus tertuju pada perlindungan masyarakat kecil dari dampak pelemahan nilai tukar.
Menurut Binton, fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang tidak selalu dapat dihindari. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa dampaknya tidak berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok yang membebani masyarakat berpenghasilan rendah. “Pelemahan rupiah memang menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Namun yang paling penting adalah bagaimana pemerintah mampu menjaga agar dampaknya tidak langsung dirasakan secara berat oleh rakyat kecil. Jangan sampai masyarakat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pihak yang paling terdampak,” ujar Binton.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai bahan baku dan komoditas strategis. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri. “Ketika rupiah melemah, biaya produksi banyak sektor usaha ikut naik. Pada akhirnya, harga barang di pasaran bisa meningkat. Karena itu diperlukan langkah cepat dan tepat agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” katanya.
Binton menilai pemerintah pusat bersama Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia. Bank Indonesia sendiri telah melakukan berbagai upaya stabilisasi nilai tukar dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah guna menjaga kondisi pasar keuangan nasional. Meski demikian, ia menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas ekonomi tidak boleh hanya berfokus pada indikator makro ekonomi semata, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Stabilitas ekonomi nasional memang penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat tetap bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Pemerintah harus hadir untuk menjaga keseimbangan itu,” tambahnya. Sebagai penggiat UMKM, Binton juga menaruh perhatian besar terhadap para pelaku usaha kecil dan menengah. Menurutnya, sektor UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang perlu mendapatkan dukungan khusus ketika kondisi ekonomi global sedang bergejolak. “UMKM harus menjadi prioritas. Mereka adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan terbukti mampu bertahan dalam berbagai krisis ekonomi. Pemerintah perlu memperluas akses pembiayaan, pelatihan, serta membuka lebih banyak peluang pasar bagi produk lokal,” ungkapnya.
Ia optimistis Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan global. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat, tekanan terhadap rupiah diyakini dapat diatasi secara bertahap. “Indonesia sudah berkali-kali menghadapi tantangan ekonomi dan selalu mampu bangkit. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap optimistis. Yang terpenting adalah menjaga produktivitas, memperkuat sektor riil, serta terus mendukung kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat,” kata Binton.
Di akhir keterangannya, Binton berharap pemerintah terus memperkuat program perlindungan sosial, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, serta memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. “Jangan sampai pelemahan rupiah menjadi beban tambahan bagi rakyat kecil. Negara harus hadir untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang terjadi saat ini,” tutupnya.
