Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Banyak pelaku UMKM merasa usahanya semakin maju ketika penjualan meningkat. Padahal menurut saya, omzet besar belum tentu menunjukkan bahwa sebuah usaha benar-benar sehat. Yang lebih penting adalah berapa keuntungan bersih yang diperoleh, apakah arus kas tetap terjaga, dan apakah modal usaha terus berkembang. Usaha bisa terlihat ramai setiap hari, tetapi tetap mengalami kesulitan keuangan apabila biaya terlalu besar, uang usaha bercampur dengan kebutuhan pribadi, atau tidak memiliki pencatatan yang jelas. Karena itu, pelaku UMKM perlu memahami kondisi usahanya berdasarkan angka yang nyata, bukan hanya melihat banyaknya penjualan.
Bedakan Omzet dengan Keuntungan
Omzet adalah seluruh nilai penjualan, sedangkan keuntungan adalah uang yang tersisa setelah seluruh biaya usaha dikeluarkan. Menurut saya, pelaku UMKM harus mengetahui keuntungan bersih yang sebenarnya. Jangan sampai penjualan terlihat besar, tetapi setelah dikurangi bahan baku, gaji, sewa, listrik, transportasi, dan biaya lainnya, keuntungan yang tersisa sangat kecil.
Jaga Arus Kas dan Pisahkan Uang Usaha
Arus kas adalah bagian penting dalam menjaga kelangsungan usaha. Pelaku UMKM harus mengetahui kapan uang masuk, kapan kewajiban harus dibayar, dan berapa modal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha. Pisahkan uang usaha dengan uang pribadi agar modal tidak habis tanpa disadari. Dengan pengelolaan yang tertib, pemilik usaha dapat mengetahui kondisi keuangannya secara lebih jelas.
Biasakan Mencatat dan Gunakan Keuntungan untuk Bertumbuh
Pencatatan keuangan tidak hanya diperlukan perusahaan besar. UMKM juga perlu mencatat pemasukan, pengeluaran, utang, piutang, stok, dan keuntungan. Menurut saya, keputusan usaha yang baik harus didasarkan pada data, bukan hanya perasaan. Sebagian keuntungan juga sebaiknya dikembalikan ke dalam usaha untuk memperkuat modal, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki peralatan, atau memperluas pemasaran. Pada akhirnya, usaha yang sehat bukan hanya usaha yang ramai pembeli, tetapi usaha yang mempunyai keuntungan yang jelas, arus kas yang terjaga, dan pengelolaan keuangan yang disiplin.
Saran saya kepada para pelaku UMKM: jangan hanya mengejar omzet. Biasakan menghitung keuntungan bersih, pisahkan uang pribadi dan uang usaha, lakukan pencatatan secara rutin, serta sisihkan sebagian keuntungan untuk memperkuat bisnis. Jangan terburu-buru menaikkan gaya hidup ketika penjualan meningkat. Perkuat dahulu fondasi usaha agar bisnis tidak hanya besar di angka penjualan, tetapi juga sehat, tahan menghadapi perubahan, dan mampu berkembang dalam jangka panjang.(BN)
