Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Ketua DPD PSI Kota Depok | Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Utang pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, utang dapat menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan produktif atau mengembangkan usaha. Namun persoalan muncul ketika utang lama dibayar menggunakan utang baru. Pola gali lubang tutup lubang seperti ini justru dapat membuat masalah keuangan semakin panjang. Menurut saya, apabila seseorang benar-benar ingin keluar dari persoalan utang, maka prinsip pertama yang harus dijalankan adalah sederhana tetapi tegas: berhenti menambah utang baru. Selama utang baru terus digunakan untuk membayar cicilan lama atau menutup kebutuhan sehari-hari, jumlah kewajiban tidak benar-benar berkurang. Beban hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan dapat bertambah karena bunga, biaya administrasi, denda, maupun biaya lainnya.
Stop Utang Baru
Langkah pertama adalah menghentikan kebiasaan mencari pinjaman baru untuk menutup kewajiban yang sudah ada. Ini memang tidak selalu mudah, terutama ketika kondisi keuangan sedang tertekan. Namun tanpa keberanian menghentikan siklus tersebut, proses keluar dari utang akan semakin sulit. Buatlah daftar seluruh kewajiban secara terbuka: berapa jumlah utang, cicilan setiap bulan, tingkat bunga, tanggal jatuh tempo, dan kepada siapa kewajiban tersebut harus dibayarkan. Dari sana kita dapat mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya.
Jangan Menghindar, Lakukan Negosiasi
Apabila kemampuan membayar mulai terganggu, jangan hanya menghindari kreditur. Datangi atau hubungi pihak pemberi pinjaman dan sampaikan kondisi secara terbuka. Menurut saya, niat baik untuk menyelesaikan kewajiban harus tetap ditunjukkan. Apabila memungkinkan, ajukan restrukturisasi atau perubahan skema pembayaran. Misalnya meminta perpanjangan jangka waktu, penyesuaian cicilan, maupun bentuk keringanan lain yang dapat diberikan sesuai kebijakan kreditur. Kesepakatan yang realistis jauh lebih baik dibandingkan membuat janji pembayaran yang sebenarnya tidak mampu dipenuhi.
Tambah Penghasilan, Bukan Tambah Pinjaman
Ada kondisi ketika cicilan sebenarnya masih dapat dibayar, tetapi penghasilan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam situasi seperti ini, persoalan utamanya bukan hanya utang, tetapi pendapatan yang terlalu kecil dibandingkan kebutuhan dan kewajiban. Karena itu, energi sebaiknya diarahkan untuk mencari tambahan pemasukan. Bisa melalui pekerjaan tambahan, usaha kecil, memanfaatkan keterampilan yang dimiliki, menjual produk atau jasa, maupun mencari sumber pendapatan lain yang realistis. Sebagai seseorang yang pernah mengabdi selama 31 tahun di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan juga berkecimpung dalam dunia UMKM, saya melihat kemampuan mengelola arus kas jauh lebih penting daripada sekadar melihat besar kecilnya penghasilan. Penghasilan yang bertambah harus diikuti dengan disiplin. Jangan sampai ketika pendapatan meningkat, pengeluaran juga langsung meningkat.
Susun Prioritas Pembayaran
Utang harus diselesaikan dengan strategi. Dahulukan kewajiban yang paling mendesak dan memberikan beban paling besar terhadap keuangan. Pada saat yang sama, kebutuhan pokok keluarga seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan tetap harus diperhitungkan secara rasional. Kurangi sementara pengeluaran yang tidak penting. Setiap tambahan uang yang diperoleh dapat diarahkan untuk mempercepat penyelesaian kewajiban. Yang terpenting adalah mempunyai target yang jelas dan terus mengevaluasi perkembangan jumlah utang dari waktu ke waktu.
Hadapi dengan Strategi, Bukan Kepanikan
Masalah utang tidak akan selesai hanya dengan diratapi. Sebaliknya, kepanikan sering membuat seseorang mengambil keputusan yang justru memperburuk keadaan, termasuk mengambil pinjaman dengan bunga lebih tinggi hanya untuk mendapatkan uang dengan cepat. Menurut saya, jalan keluarnya adalah berhenti menambah utang, berani menghadapi kreditur, memperbaiki pengelolaan keuangan, meningkatkan penghasilan, dan menjalankan pembayaran secara konsisten. Keluar dari utang memang membutuhkan waktu dan disiplin. Namun setiap cicilan yang dibayar tanpa menciptakan utang baru merupakan satu langkah menuju kondisi keuangan yang lebih sehat.
Jangan menyelesaikan utang dengan utang baru. Hadapi kewajiban dengan strategi, disiplin, dan kerja keras. Karena kebebasan finansial dimulai ketika kita berani menghentikan siklus gali lubang tutup lubang.
