Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Ketua DPD PSI Kota Depok | Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita bahwa bencana alam merupakan bagian dari realitas kehidupan yang tidak selalu dapat diprediksi sepenuhnya. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi yang benar dan ketenangan, tetapi juga membutuhkan kehadiran nyata dari berbagai elemen sosial, pemerintahan, maupun organisasi politik. Atas dasar semangat tersebut, DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok bersama jajaran pengurus DPD, para Ketua DPC PSI se-Kota Depok serta jajaran pengurus turun langsung membagikan masker secara gratis kepada masyarakat di kawasan Cinere, Kota Depok, tepatnya di depan lingkungan Kantor DPD PSI Kota Depok.
Kegiatan ini memang terlihat sederhana. Namun menurut saya, dalam perspektif sosial, tindakan sederhana dapat mempunyai arti yang besar apabila dilakukan pada waktu yang tepat dan didasarkan pada kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Masker bukan sekadar benda yang dibagikan. Dalam konteks ini, masker menjadi simbol kewaspadaan, perlindungan, solidaritas, sekaligus pesan bahwa masyarakat tidak menghadapi situasi seperti ini sendirian. Menurut saya, politik pada hakikatnya tidak boleh dipahami hanya sebatas kompetisi memperoleh kekuasaan, perebutan suara dalam pemilu, maupun kegiatan formal di dalam institusi pemerintahan dan parlemen. Politik seharusnya mempunyai makna yang jauh lebih luas, yaitu bagaimana kekuasaan, organisasi, jaringan, dan sumber daya yang dimiliki dapat digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, saya selalu berpandangan bahwa partai politik tidak boleh hanya hadir ketika masyarakat diminta memberikan suara. Partai politik justru harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, membutuhkan bantuan, atau memerlukan perhatian. Kehadiran tersebut tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Kepedulian dapat dimulai melalui hal sederhana, seperti membagikan masker, memberikan informasi, mendengarkan keluhan warga, membantu masyarakat memahami pelayanan publik, atau hadir ketika lingkungan menghadapi persoalan tertentu. Melalui langkah-langkah seperti inilah masyarakat dapat melihat apakah sebuah organisasi politik benar-benar mempunyai kepedulian sosial atau hanya hadir dalam momentum politik tertentu. Bencana juga memberikan pelajaran penting mengenai posisi manusia di hadapan alam. Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, pembangunan, dan perkembangan ekonomi memang memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun pada saat yang sama, alam selalu mengingatkan bahwa terdapat berbagai risiko yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan, disiplin, serta kerja sama.
Dalam keadaan seperti ini, solidaritas menjadi sangat penting. Pemerintah mempunyai tanggung jawab utama dalam perlindungan masyarakat, tetapi organisasi sosial, dunia usaha, komunitas, lembaga keagamaan, partai politik, dan masyarakat sipil juga dapat mengambil bagian sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semangat gotong royong seperti inilah yang menurut saya merupakan salah satu kekuatan terbesar bangsa Indonesia. Ketika terjadi persoalan, kita tidak seharusnya terlebih dahulu bertanya apa latar belakang seseorang, apa pilihan politiknya, dari kelompok mana ia berasal, atau siapa yang didukungnya. Yang harus kita lihat terlebih dahulu adalah bahwa mereka merupakan sesama warga yang membutuhkan perhatian. Kemanusiaan harus selalu berada di atas kepentingan kelompok.
Kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau juga perlu menjadi momentum untuk terus membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Kesiapsiagaan tidak berarti menciptakan ketakutan. Justru sebaliknya, kesiapsiagaan merupakan bentuk rasionalitas dalam menghadapi kemungkinan risiko. Masyarakat perlu membiasakan diri mendapatkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya, mengikuti arahan resmi pemerintah dan instansi terkait, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi yang beredar dengan cepat melalui media sosial. Dalam situasi bencana, penyebaran informasi yang tidak akurat dapat menimbulkan persoalan baru berupa kepanikan. Karena itu, menurut saya, edukasi masyarakat harus berjalan bersama dengan bantuan langsung. Membagikan masker penting, tetapi memberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan masker ketika kualitas udara terganggu juga tidak kalah penting. Terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang mempunyai kerentanan terhadap gangguan pernapasan, langkah pencegahan sederhana dapat menjadi bentuk perlindungan yang sangat berarti.

Saya juga berharap kegiatan seperti ini tidak dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial. Bagi saya, sebuah organisasi politik harus membangun budaya kepedulian sejak dari tingkat pimpinan sampai kepada struktur yang berada paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, saya mengapresiasi keterlibatan jajaran pengurus DPD PSI Kota Depok, para Ketua DPC PSI se-Kota Depok, serta seluruh jajaran pengurus yang ikut turun langsung dalam kegiatan pembagian masker ini. Kehadiran struktur partai di tengah masyarakat merupakan sesuatu yang sangat penting. Struktur organisasi bukan hanya daftar nama dan jabatan. Struktur harus bergerak, bekerja, berinteraksi, mendengar, serta memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Apabila pengurus partai mampu membangun kedekatan sosial dengan masyarakat, maka politik akan kembali kepada tujuan dasarnya, yaitu memperjuangkan kepentingan publik. Menurut saya, inilah yang harus terus kita bangun di PSI Kota Depok. Kita ingin menghadirkan organisasi yang tidak hanya aktif dalam ruang rapat, tetapi juga aktif di tengah masyarakat. Kita ingin pengurus mengetahui persoalan di wilayahnya masing-masing. Kita ingin masyarakat melihat bahwa kehadiran politik dapat memberikan manfaat yang konkret.
Dari perspektif hukum dan tata kelola pemerintahan, perlindungan masyarakat terhadap risiko bencana pada prinsipnya merupakan bagian dari tanggung jawab negara. Namun dalam praktik kehidupan sosial, efektivitas perlindungan masyarakat akan jauh lebih kuat apabila terdapat partisipasi aktif masyarakat sipil. Negara tidak berjalan sendiri dan masyarakat juga bukan sekadar objek yang menunggu bantuan. Di antara keduanya harus terdapat hubungan yang saling menguatkan.
Pemerintah menyediakan sistem, kebijakan, informasi, koordinasi, dan perlindungan. Sementara masyarakat, organisasi sosial, serta berbagai unsur lainnya turut membangun kesadaran, solidaritas, dan partisipasi. Menurut saya, tata kelola yang baik selalu membutuhkan kolaborasi. Prinsip tersebut berlaku bukan hanya dalam penanggulangan bencana, tetapi juga dalam pembangunan kota, pelayanan publik, pendidikan, lingkungan, ekonomi, UMKM, maupun berbagai persoalan sosial lainnya. Saya percaya bahwa masyarakat saat ini semakin kritis dalam menilai kehidupan politik. Masyarakat tidak cukup hanya diberikan janji. Masyarakat ingin melihat kerja, konsistensi, dan siapa yang benar-benar hadir ketika dibutuhkan. Karena itu, politik harus semakin membumi dan mampu berbicara mengenai persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ketika masyarakat membutuhkan masker, kita hadir membawa masker. Ketika masyarakat menghadapi persoalan pelayanan publik, kita harus membantu mencari jalan keluarnya. Ketika pelaku UMKM membutuhkan pendampingan, kita harus mendorong agar mereka mendapatkan akses dan kesempatan. Ketika warga membutuhkan informasi mengenai hak-haknya, kita harus membantu memberikan pemahaman. Dengan cara seperti itulah politik akan memperoleh kembali kepercayaan masyarakat. Kepercayaan tidak dapat dipaksakan. Kepercayaan dibangun melalui tindakan yang konsisten.
Pembagian masker gratis yang dilakukan di Cinere ini tentu bukan jawaban atas seluruh persoalan yang mungkin muncul akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Namun setidaknya kegiatan ini merupakan bentuk nyata bahwa kepedulian dapat dimulai dari apa yang dapat kita lakukan hari ini. Kita tidak harus menunggu mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk membantu. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk hadir dan berbagi. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran DPD PSI Kota Depok, para Ketua DPC PSI se-Kota Depok beserta seluruh pengurus yang telah menunjukkan semangat solidaritas dalam kegiatan ini. Saya juga mengajak masyarakat Kota Depok untuk tetap tenang, menjaga kesehatan, memperhatikan kondisi lingkungan, serta selalu mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi yang mempunyai kewenangan dalam pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Semoga seluruh masyarakat senantiasa diberikan perlindungan dan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa serta aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat segera kembali dalam kondisi yang lebih aman.
Pada akhirnya, menurut saya, nilai sebuah organisasi politik tidak hanya diukur dari berapa besar struktur yang dimiliki, berapa banyak suara yang diperoleh, atau berapa kursi yang berhasil diraih. Nilai sebuah organisasi juga ditentukan oleh seberapa besar keberadaannya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, PSI Kota Depok akan terus berusaha membangun politik yang dekat dengan masyarakat, politik yang mempunyai kepedulian sosial, serta politik yang diwujudkan melalui kerja nyata. Hadir ketika masyarakat membutuhkan, bergerak ketika ada persoalan, dan bekerja untuk kepentingan publik. Itulah politik yang ingin terus kami bangun di Kota Depok.
