Memasuki Usia 56 Tahun: Dari BRI Menuju DPRD Kota Depok
Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku dan Pemerhati UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Sebuah video di Facebook menyampaikan pesan bahwa setelah memasuki usia 50 tahun, ada sejumlah hal yang perlu dilepaskan agar hidup menjadi lebih damai. Salah satu pesannya sangat kuat: lepaskan keinginan untuk selalu disukai semua orang. Pesan tersebut terasa dekat dengan perjalanan hidup saya. Saya mengabdi selama kurang lebih 31 tahun di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pada usia 51 tahun, saya mengambil keputusan untuk pensiun dini. Bagi sebagian orang, pensiun mungkin dipandang sebagai berakhirnya masa produktif. Namun, saya memilih memaknainya sebagai pintu menuju bentuk pengabdian yang baru.
Saya memang berhenti sebagai pegawai BRI, tetapi saya tidak berhenti bekerja, belajar, dan melayani. Pengalaman selama puluhan tahun di dunia perbankan—tentang kedisiplinan, kejujuran, ketelitian, kepercayaan, manajemen risiko, dan pelayanan—saya bawa ketika memasuki kehidupan politik. Perjalanan tersebut kemudian membawa saya memperoleh amanah sebagai Anggota DPRD Kota Depok. Dari melayani nasabah, saya beralih melayani dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Dari membaca laporan keuangan, saya belajar lebih dalam membaca persoalan sosial. Dari menjaga kepercayaan nasabah, kini saya harus menjaga kepercayaan rakyat. Memasuki usia 56 tahun, saya semakin memahami bahwa usia bukan alasan untuk berhenti. Usia justru memberikan pengalaman, kematangan, dan kesempatan untuk menentukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan. Berangkat dari pesan dalam video tersebut, ada lima pelajaran yang saya renungkan dalam perjalanan hidup saya.
Pertama, Lepaskan Keinginan untuk Selalu Disukai Semua Orang
Ketika bekerja di dunia perbankan, keputusan harus dibuat berdasarkan aturan, kehati-hatian, dan tanggung jawab. Demikian pula dalam politik. Seorang wakil rakyat tidak mungkin menyenangkan semua orang. Kritik, perbedaan pendapat, bahkan penolakan merupakan bagian dari demokrasi. Yang terpenting bukanlah apakah semua orang menyukai kita, melainkan apakah keputusan yang kita ambil benar, sesuai hukum, berpihak kepada kepentingan masyarakat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, Lepaskan Ketakutan untuk Memulai Kembali
Pensiun dini pada usia 51 tahun berarti meninggalkan lingkungan kerja yang telah saya jalani selama puluhan tahun. Saya harus memasuki dunia baru, bertemu dengan masyarakat yang lebih luas, serta mempelajari persoalan pemerintahan, hukum, pelayanan publik, politik, dan anggaran. Memulai kembali memang tidak mudah. Namun, kehidupan tidak selalu meminta kita untuk bertahan di tempat yang sama. Kadang-kadang Tuhan membuka jalan baru setelah kita berani meninggalkan kenyamanan lama. Kita mungkin meninggalkan jabatan, pekerjaan, atau lingkungan yang telah lama kita kenal. Namun, pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun tidak ikut hilang. Semua itu menjadi modal untuk melangkah ke perjalanan berikutnya.
Ketiga, Lepaskan Anggapan bahwa Pensiun Berarti Tidak Lagi Produktif
Pensiun hanyalah berakhirnya suatu hubungan pekerjaan. Pensiun bukan akhir dari kemampuan, kreativitas, maupun pengabdian seseorang. Setelah pensiun, seseorang masih dapat menjadi pelaku usaha, aktivis sosial, pendidik, konsultan, pengurus organisasi, tokoh masyarakat, ataupun wakil rakyat. Pengalaman puluhan tahun tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Pengalaman harus diubah menjadi pengetahuan, gagasan, serta manfaat bagi masyarakat dan generasi berikutnya. Menurut saya, orang yang telah memiliki pengalaman panjang justru mempunyai tanggung jawab moral untuk membagikan pengalaman tersebut agar dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.
Keempat, Lepaskan Penyesalan, Perbandingan, dan Luka Masa Lalu
Setiap perjalanan kehidupan pasti memiliki keberhasilan dan kegagalan. Ada keputusan yang tepat dan ada pula keputusan yang kemudian menjadi pelajaran. Kita tidak perlu terus-menerus membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain. Setiap orang mempunyai waktu, jalan, tantangan, dan kesempatan yang berbeda. Dalam politik pun, perbedaan pilihan tidak boleh berubah menjadi permusuhan. Kritik harus diterima sebagai pengingat, sedangkan perbedaan harus dikelola melalui dialog. Dendam hanya menghabiskan energi yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja, berkarya, dan berbuat baik. Masa lalu adalah sekolah, bukan penjara. Kita mengambil pelajarannya, tetapi tidak harus hidup selamanya di dalam penyesalannya.
Kelima, Lepaskan Zona Nyaman, tetapi Jangan Lepaskan Prinsip
Berani berubah bukan berarti kehilangan jati diri. Ketika memasuki dunia politik, prinsip kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab, dan pelayanan yang dibentuk selama bekerja di BRI harus tetap saya jaga. Lingkungan boleh berubah. Jabatan boleh berubah. Tanggung jawab boleh semakin besar. Namun, prinsip dasar dalam menjalani kehidupan tidak boleh ikut berubah hanya karena kita berada di tempat yang berbeda. Pada usia sekarang, saya juga terus belajar melalui pendidikan doktoral di bidang hukum. Bagi saya, belajar tidak mengenal batas usia. Gelar akademik bukan sekadar tambahan di belakang nama, melainkan tanggung jawab untuk menggunakan ilmu, pengalaman, dan pengetahuan bagi kepentingan masyarakat.
Usia Bukan Alasan untuk Berhenti Berkarya
Kepada para sahabat yang telah memasuki usia 50 tahun ke atas, jangan merasa bahwa kesempatan telah tertutup. Jangan hanya menghitung berapa tahun usia yang telah berlalu. Tanyakanlah kepada diri sendiri: berapa banyak manfaat yang masih dapat kita berikan? Pengalaman kita masih dibutuhkan. Pikiran kita masih dapat menghasilkan gagasan. Tangan kita masih dapat menolong. Suara kita masih dapat membela mereka yang membutuhkan. Hidup kita masih dapat memberikan inspirasi bagi keluarga, masyarakat, dan generasi muda. Saya pernah menjadi pegawai BRI. Pada usia 51 tahun, saya memilih pensiun dini. Setelah itu, saya memasuki dunia politik dan mendapatkan kepercayaan menjadi Anggota DPRD Kota Depok. Kini, memasuki usia 56 tahun, saya semakin menyadari bahwa kehidupan bukan tentang mempertahankan satu jabatan selama-lamanya. Kehidupan adalah tentang keberanian untuk terus bertumbuh, belajar, bekerja, dan menghadirkan manfaat di mana pun kita berada. Pensiun dari pekerjaan boleh, tetapi jangan pernah pensiun dari pengabdian. Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk belajar, bekerja, berkarya, dan melayani tidak boleh menjadi tua.
