Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Perjalanan Mochtar Riady dalam dunia bisnis menurut saya memberikan banyak pelajaran mengenai bagaimana sebuah usaha besar tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia bisnis Indonesia, khususnya di sektor keuangan dan properti, serta membangun Lippo Group yang kemudian berkembang ke berbagai bidang usaha. Yang menarik bukan hanya seberapa besar bisnis yang akhirnya dibangun, tetapi bagaimana pengalaman, kemampuan membaca peluang, disiplin, dan konsistensi menjadi modal yang terus dikembangkan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Pengalaman Adalah Modal yang Tidak Bisa Dibeli Seketika
Perjalanan Mochtar Riady berangkat dari dunia perbankan. Ia dikenal mempunyai kemampuan dalam membenahi dan mengembangkan bank. Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah keterlibatannya dalam pengembangan Bank Central Asia (BCA) pada masanya hingga berkembang menjadi salah satu bank swasta besar di Indonesia. Menurut saya, pengalaman kerja jangan hanya dipandang sebagai perjalanan untuk mendapatkan gaji atau jabatan. Pengalaman adalah sekolah panjang yang membentuk kemampuan seseorang membaca persoalan, mengambil keputusan, mengelola risiko, dan melihat peluang. Semakin lama seseorang berada dalam suatu bidang, seharusnya semakin banyak pengetahuan yang dikumpulkan. Tetapi pengalaman baru menjadi berharga ketika kita mampu mengolahnya menjadi kemampuan.
Jangan Hanya Bekerja, Pelajari Sistemnya
Ada orang bekerja puluhan tahun tetapi setelah berhenti bekerja merasa harus memulai semuanya dari nol. Ada pula orang yang selama bekerja terus mempelajari bagaimana sebuah perusahaan berjalan, bagaimana pelanggan dilayani, bagaimana uang dikelola, bagaimana risiko dihitung, dan bagaimana organisasi berkembang. Menurut saya, perbedaannya berada pada cara memandang pekerjaan. Ketika kita bekerja di suatu perusahaan, jangan hanya memahami pekerjaan yang berada di meja kita. Pelajari juga sistem di belakangnya. Bagaimana perusahaan memperoleh pendapatan? Bagaimana perusahaan mendapatkan pelanggan? Bagaimana keputusan investasi dibuat? Bagaimana organisasi mengelola orang? Bagaimana perusahaan menghadapi krisis?
Orang yang terus belajar dari pekerjaannya sedang mengumpulkan modal yang suatu hari dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang lebih besar.
Kemampuan Membaca Peluang Sangat Penting
Dunia usaha terus berubah. Sektor yang berkembang hari ini belum tentu sama dengan lima atau sepuluh tahun mendatang. Karena itu, pengusaha tidak cukup hanya rajin. Ia juga harus mampu membaca perubahan. Perjalanan bisnis Mochtar Riady menunjukkan pentingnya melihat peluang pada sektor-sektor yang berkembang. Setelah memiliki pengalaman panjang di perbankan, pengembangan bisnis kemudian meluas ke berbagai bidang, termasuk properti, kesehatan, dan ritel. Menurut saya, pengusaha yang hanya melihat keadaan hari ini akan selalu tertinggal. Pengusaha harus belajar melihat kebutuhan masyarakat beberapa tahun ke depan. Ketika jumlah penduduk meningkat, kebutuhan tempat tinggal meningkat. Ketika kelas menengah tumbuh, kebutuhan kesehatan, pendidikan, pusat perbelanjaan, dan berbagai layanan lainnya juga berkembang. Di situlah kemampuan membaca arah perubahan menjadi sangat penting.
Jangan Terlalu Cepat Menghabiskan Hasil Usaha
Salah satu tantangan pelaku usaha adalah ketika usaha mulai menghasilkan keuntungan. Banyak orang tergoda segera meningkatkan gaya hidup. Padahal menurut saya, pada tahap awal pertumbuhan bisnis, keuntungan seharusnya tidak seluruhnya dipandang sebagai uang untuk dinikmati. Sebagian harus kembali menjadi modal. Kalau usaha menghasilkan keuntungan, pikirkan bagaimana memperkuat usaha. Perbaiki sistem, tingkatkan kualitas, tambahkan kapasitas, bangun jaringan, perkuat cadangan keuangan, dan cari peluang baru yang masih berkaitan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.
Bisnis besar biasanya tumbuh karena keuntungan hari ini digunakan untuk menciptakan pertumbuhan esok hari.
Besar Bukan Berarti Harus Melompat Terlalu Jauh
Pelaku UMKM sering melihat perusahaan besar dan berpikir bahwa untuk menjadi besar mereka harus langsung melakukan ekspansi besar-besaran. Menurut saya, tidak demikian. Bisnis besar tetap dibangun melalui tahapan. Mulai dari satu pelanggan, kemudian sepuluh. Dari satu produk menjadi beberapa produk. Dari satu lokasi menjadi beberapa lokasi. Dari pencatatan sederhana menuju sistem keuangan yang lebih profesional. Yang penting bukan seberapa cepat kita terlihat besar, tetapi seberapa kuat fondasi yang dibangun. Jangan mempunyai sepuluh cabang kalau satu cabang saja belum mempunyai sistem yang baik. Jangan menambah utang besar hanya untuk terlihat berkembang. Jangan membeli aset yang belum produktif hanya untuk menunjukkan bahwa usaha sudah sukses. Pertumbuhan harus mengikuti kemampuan.
Dunia Perbankan Mengajarkan Disiplin
Saya sendiri menjalani lebih dari 31 tahun pengabdian di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Salah satu pelajaran besar dari dunia perbankan adalah pentingnya disiplin dalam mengelola keuangan dan risiko. Bisnis tidak cukup dinilai dari omzet. Omzet Rp1 miliar belum tentu berarti pengusahanya memperoleh keuntungan besar. Harus dilihat biaya, utang, arus kas, persediaan, piutang, kewajiban pajak, serta berbagai pengeluaran lainnya. Karena itu pelaku usaha harus memahami angka. Menurut saya, pengusaha yang tidak memahami keuangan usahanya seperti mengendarai kendaraan tanpa melihat indikator bahan bakar, kecepatan, dan kondisi mesin. Ia mungkin tetap berjalan, tetapi tidak mengetahui kapan masalah akan datang.
Strategi Jangka Panjang Mengalahkan Keuntungan Sesaat
Hal lain yang menurut saya penting dari perjalanan pengusaha besar adalah orientasi jangka panjang. Dalam bisnis selalu ada kesempatan memperoleh keuntungan cepat. Tetapi keuntungan cepat belum tentu membangun usaha yang bertahan puluhan tahun. Bisnis yang sehat membutuhkan reputasi, kepercayaan pelanggan, sumber daya manusia, sistem, permodalan, dan kemampuan beradaptasi. Semua itu membutuhkan waktu. Karena itu, jangan hanya bertanya, “berapa keuntungan saya bulan ini?” Tanyakan juga, “usaha ini akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun lagi?” Pertanyaan kedua memaksa kita berpikir mengenai arah.
UMKM Juga Harus Mempunyai Visi Besar
Pelajaran dari tokoh bisnis besar bukan berarti setiap UMKM harus menjadi konglomerasi. Tetapi setiap pelaku usaha perlu mempunyai visi. Warung kecil dapat mempunyai target berkembang menjadi toko. Toko dapat berkembang menjadi distributor. Usaha makanan rumahan dapat membangun merek. Jasa yang awalnya dikerjakan sendiri dapat berkembang menjadi perusahaan dengan tim profesional. Tidak semua harus menjadi perusahaan raksasa. Namun setiap usaha harus mempunyai arah. Menurut saya, masalah banyak usaha kecil bukan karena pemiliknya tidak bekerja keras, tetapi karena seluruh energi habis untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini sehingga tidak sempat memikirkan masa depan.
Bangun Sistem agar Usaha Tidak Bergantung kepada Pemilik
Sebuah usaha belum benar-benar besar apabila semuanya masih harus dikerjakan pemilik. Pemilik menerima pesanan, membeli barang, mengurus pembayaran, mencari pelanggan, menangani keluhan, mengatur pegawai, bahkan membuka dan menutup tempat usaha sendiri. Pada tahap awal hal tersebut wajar. Namun jika ingin berkembang, sistem harus mulai dibangun. Harus ada pembagian tugas, standar pelayanan, pencatatan keuangan, target, evaluasi, dan orang-orang yang dapat dipercaya. Bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang bisa berjalan ketika pemiliknya hadir, tetapi bisnis yang mempunyai sistem sehingga tetap dapat berjalan ketika pemilik tidak berada di tempat.
Konsistensi Lebih Penting daripada Semangat Sesaat
Banyak orang mempunyai ide bisnis yang bagus. Banyak pula yang mempunyai semangat besar ketika baru memulai. Tetapi tidak semuanya mampu bertahan. Membangun bisnis membutuhkan waktu panjang. Ada masa penjualan naik dan turun. Ada keputusan yang ternyata salah. Ada investasi yang tidak menghasilkan sesuai rencana. Ada perubahan pasar dan persaingan. Karena itu menurut saya, yang membuat seseorang bertahan bukan hanya kecerdasan, tetapi kemampuan untuk terus belajar dan tetap berjalan ketika keadaan tidak sesuai rencana. Konsistensi sering terlihat sederhana, tetapi justru itulah yang sulit dilakukan selama puluhan tahun.
Jangan Hanya Melihat Kekayaannya, Pelajari Prosesnya
Ketika melihat pengusaha besar seperti Mochtar Riady, masyarakat sering lebih tertarik membicarakan kekayaan, perusahaan, gedung, atau aset yang dimiliki. Menurut saya, justru yang paling berguna adalah mempelajari proses di belakangnya. Bagaimana seseorang mengumpulkan pengalaman? Bagaimana membaca peluang? Bagaimana mengambil risiko? Bagaimana menggunakan keuntungan untuk membangun usaha berikutnya? Bagaimana membangun organisasi? Bagaimana mempertahankan bisnis agar dapat berjalan lintas generasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mengagumi hasil akhirnya.
Kesuksesan besar hampir selalu merupakan akumulasi dari ribuan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Pengalaman Harus Diubah Menjadi Nilai
Pada akhirnya, menurut saya perjalanan Mochtar Riady memberikan satu pelajaran penting: jangan pernah meremehkan pengalaman yang sedang kita kumpulkan hari ini. Pekerjaan yang kita jalani, pelanggan yang kita temui, masalah yang kita selesaikan, kegagalan yang pernah dialami, serta keputusan yang pernah salah semuanya dapat menjadi modal apabila kita mau belajar. Pengalaman melahirkan kemampuan. Kemampuan membantu membaca peluang. Peluang membutuhkan keberanian. Keberanian harus dikendalikan dengan strategi. Dan strategi membutuhkan konsistensi. Bisnis besar tidak lahir hanya karena seseorang mempunyai modal besar. Bisnis besar dibangun ketika pengalaman, pengetahuan, disiplin, keberanian membaca peluang, dan konsistensi berjalan bersama dalam waktu yang panjang. Menurut saya, itulah yang patut dipelajari dari perjalanan para pengusaha besar: jangan hanya ingin menikmati hasil yang mereka miliki hari ini, tetapi pelajari proses panjang yang membuat mereka sampai ke sana.
