Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
2 Tawarikh 7:14 mengingatkan umat Tuhan untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan yang jahat.
Dalam kehidupan, hampir setiap manusia pernah berada pada keadaan yang membuatnya bertanya, “Tuhan, mengapa ini terjadi kepada saya?” Ketika usaha mengalami kesulitan, pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, keluarga menghadapi persoalan, ekonomi tertekan, kesehatan terganggu, hubungan dengan orang lain rusak, atau berbagai masalah datang bersamaan, kita biasanya datang kepada Tuhan dan meminta agar keadaan segera diubah. Kita berdoa agar Tuhan membuka jalan. Kita meminta usaha dipulihkan, pekerjaan dimudahkan, keluarga diselamatkan, persoalan ekonomi diselesaikan, kesehatan dipulihkan, dan kehidupan kembali tenang. Berdoa seperti itu tentu tidak salah. Tuhan memang tempat manusia membawa pergumulan dan pengharapan. Namun menurut saya, 2 Tawarikh 7:14 memberikan sebuah pesan yang lebih dalam: doa tidak hanya berbicara tentang meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi juga tentang kesediaan manusia untuk berubah. Ada saatnya kita tidak hanya bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” Kita juga perlu bertanya dengan jujur, “Apakah ada sesuatu dalam diri saya yang harus diperbaiki?”
Jangan Hanya Meminta Jalan Keluar, Periksa Juga Jalan yang Kita Tempuh
Ketika menghadapi masalah, manusia secara alami ingin segera mencari jalan keluar. Tetapi terkadang kita terlalu fokus meminta agar persoalan dihilangkan sehingga lupa memeriksa apakah ada keputusan, kebiasaan, sikap, atau cara hidup kita sendiri yang ikut membawa kita ke dalam persoalan tersebut. Kita meminta Tuhan memperbaiki hubungan keluarga, tetapi mungkin kita sendiri belum belajar mendengarkan. Kita meminta Tuhan memulihkan kepercayaan, tetapi mungkin ada kejujuran yang harus kita perbaiki. Kita meminta Tuhan memberkati pekerjaan, tetapi mungkin kedisiplinan dan tanggung jawab kita masih perlu dibenahi. Kita meminta Tuhan memberikan ketenangan, tetapi hati kita masih dipenuhi dendam dan kebencian. Kita meminta Tuhan membuka pintu baru, tetapi masih mempertahankan kebiasaan lama yang justru menutup banyak pintu. Karena itu, menurut saya, doa yang dewasa bukan hanya berkata, “Tuhan, ubahlah keadaan saya,” tetapi juga berani berkata, “Tuhan, kalau ada yang salah dalam diri saya, ubahlah saya.”
Merendahkan Diri Adalah Awal Perubahan
Firman Tuhan mengawali pesan dalam 2 Tawarikh 7:14 dengan ajakan untuk merendahkan diri. Ini penting karena salah satu hal yang paling sulit dilakukan manusia adalah mengakui bahwa dirinya bisa salah. Kita sering lebih cepat melihat kekurangan orang lain. Kita mudah menyalahkan keadaan, lingkungan, pasangan, keluarga, rekan kerja, pemerintah, atasan, bawahan, bahkan terkadang menyalahkan Tuhan. Tetapi kita belum tentu mempunyai keberanian yang sama untuk memeriksa diri sendiri. Merendahkan diri bukan berarti merasa tidak berharga. Merendahkan diri berarti mempunyai keberanian untuk berkata, “Saya tidak sempurna. Saya masih bisa salah. Saya masih perlu belajar. Saya masih perlu diperbaiki Tuhan.” Menurut saya, manusia yang mampu mengatakan hal tersebut justru sedang menunjukkan kekuatan. Kesombongan membuat seseorang merasa tidak perlu berubah. Kerendahan hati membuat seseorang selalu mempunyai ruang untuk menjadi lebih baik.
Lebih dari 30 Tahun Melayani Nasabah Mengajarkan Saya Tentang Perubahan
Lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pelayan nasabah, khususnya di wilayah Depok. Dalam perjalanan tersebut, saya bertemu dengan ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada pelaku UMKM yang sedang membangun usaha. Ada pedagang yang membutuhkan tambahan modal. Ada keluarga yang sedang memperjuangkan masa depan. Ada orang-orang yang datang dengan harapan mendapatkan fasilitas kredit maupun berbagai manfaat layanan perbankan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku. Dari pengalaman panjang tersebut saya belajar bahwa kehidupan manusia selalu bergerak. Keadaan ekonomi dapat berubah. Usaha dapat mengalami naik dan turun. Orang yang hari ini menghadapi kesulitan bisa menjadi berhasil beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, orang yang sedang berada dalam keadaan baik tetap harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Saya juga belajar bahwa pertolongan terbaik tidak selalu berarti memberikan semua yang seseorang inginkan. Kadang yang lebih penting adalah membantu seseorang menemukan jalan yang benar, mengambil keputusan yang lebih baik, dan belajar dari kesalahan. Karena itu, pengalaman pelayanan nasabah mengajarkan saya bahwa perubahan kehidupan membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi diri. Kalau ada strategi usaha yang salah, perbaiki. Kalau pengelolaan keuangan kurang baik, benahi. Kalau keputusan masa lalu membawa persoalan, ambil pelajaran dan jangan mengulangi kesalahan yang sama. Doa harus berjalan bersama ikhtiar, kedisiplinan, tanggung jawab, dan perubahan.
Kebaikan yang Ditabur dengan Tulus Tidak Pernah Sia-Sia
Selama puluhan tahun melayani masyarakat, saya berusaha melihat setiap nasabah bukan sekadar sebagai angka atau target pekerjaan. Di balik setiap orang terdapat keluarga, harapan, dan perjuangan. Ketika kemudian saya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Kota Depok, saya merasakan dukungan dari banyak orang yang pernah saya kenal dalam perjalanan kehidupan. Ada yang memberikan doa, semangat, tenaga, pemikiran, dan ada pula yang memberikan kepercayaan melalui suaranya. Bagi saya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting: kebaikan yang ditanam dengan tulus dapat meninggalkan jejak yang panjang. Namun jangan berbuat baik semata-mata supaya suatu hari dibalas. Berbuat baiklah karena kita mempunyai kesempatan untuk membantu. Kalau orang yang kita bantu mengingatnya, bersyukurlah. Kalau dia melupakannya, jangan menyesal telah berbuat baik. Tugas kita bukan menghitung balasan manusia. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik dengan tulus dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Dari Pelayan Nasabah, Penetua Gereja, Hingga Pelayan Masyarakat
Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup saya, ada satu kata yang terus mengikuti setiap fase kehidupan: pelayanan. Ketika bekerja di Bank BRI, saya belajar menjadi pelayan nasabah. Ketika diberikan kepercayaan menjadi penetua gereja, saya belajar bahwa pelayanan kepada Tuhan juga berarti melayani, mendengar, menguatkan, dan memperhatikan sesama. Dan ketika hari ini masyarakat memberikan kepercayaan kepada saya menjadi anggota DPRD Kota Depok, saya kembali belajar bahwa jabatan adalah kesempatan menjadi pelayan masyarakat. Tempat pelayanan dapat berubah, tetapi prinsipnya tetap sama: hidup harus memberikan manfaat. Jabatan seharusnya tidak membuat seseorang semakin sulit menerima kritik. Justru semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kewajiban untuk mengevaluasi diri. Apakah keputusan kita sudah benar? Apakah tindakan kita sudah memberikan manfaat? Apakah masyarakat yang kita layani benar-benar merasakan kehadiran kita? Pertanyaan seperti itu harus terus hidup dalam diri setiap orang yang mendapatkan kepercayaan.
Berdoa Bukan Berarti Berdiam Diri
Ada pemahaman yang menurut saya perlu terus kita renungkan. Berdoa bukan berarti kita menyerahkan seluruh persoalan kepada Tuhan kemudian tidak melakukan apa-apa. Kalau kita berdoa meminta pekerjaan, kita juga harus berusaha mencari kesempatan. Kalau kita meminta usaha berkembang, kita harus belajar mengelola usaha dengan lebih baik. Kalau kita meminta keluarga dipulihkan, kita juga harus belajar meminta maaf, mengampuni, dan berkomunikasi. Kalau kita meminta Tuhan menyelesaikan persoalan ekonomi, kita juga perlu memperbaiki cara mengelola pengeluaran, kewajiban, dan pendapatan. Kalau kita meminta Tuhan mengubah kehidupan, kita harus bersedia meninggalkan kebiasaan yang selama ini merusak kehidupan. Doa sejati menghasilkan tindakan. Doa membuka hati kepada Tuhan, tetapi perubahan harus terlihat dalam kehidupan.
Berbalik dari Jalan yang Salah
Bagian lain yang sangat kuat dari 2 Tawarikh 7:14 adalah ajakan untuk berbalik dari jalan yang jahat. Artinya, tidak cukup hanya menyadari kesalahan. Kalau kita tahu sesuatu salah, kita harus berhenti melakukannya. Kalau pernah berbohong, mulailah berkata jujur. Kalau pernah menyakiti orang lain, mintalah maaf. Kalau pernah merugikan seseorang, sebisa mungkin perbaikilah. Kalau hubungan keluarga rusak karena ego, belajarlah merendahkan diri. Kalau selama ini kita terlalu mengejar kepentingan diri sendiri, mulailah belajar memikirkan orang lain. Kalau kita jauh dari Tuhan, kembalilah. Pertobatan bukan sekadar merasa menyesal. Pertobatan adalah perubahan arah. Menyesal mengatakan, “Saya salah.” Pertobatan mengatakan, “Saya salah dan saya tidak mau terus berjalan di jalan yang sama.”
Jangan Tunggu Semuanya Hancur Baru Mau Berubah
Manusia terkadang baru mau berubah setelah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Baru menjaga kesehatan setelah sakit. Baru menghargai keluarga setelah hubungan hampir hancur. Baru belajar mengatur keuangan setelah masalah datang. Baru menghargai kepercayaan setelah kepercayaan itu hilang. Baru mencari Tuhan ketika semua jalan terasa tertutup. Padahal kita tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi sangat buruk untuk mulai berubah. Kalau hari ini kita menyadari ada yang salah, perbaikilah hari ini. Kalau ada orang yang harus kita mintai maaf, jangan terus menunda. Kalau ada kebiasaan yang harus dihentikan, mulailah. Kalau ada hubungan yang masih dapat diperbaiki, perjuangkan. Kalau ada kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, jangan menunggu esok.
Tuhan Dapat Mengubah Keadaan, Tetapi Kita Harus Bersedia Dibentuk
Saya percaya Tuhan mempunyai kuasa mengubah keadaan manusia. Pintu yang tertutup dapat dibuka. Jalan yang tampaknya tidak ada dapat muncul. Kehidupan yang terpuruk dapat dipulihkan. Tetapi kita juga harus bersedia dibentuk dalam proses tersebut. Kadang Tuhan tidak langsung mengangkat kita dari persoalan karena melalui persoalan itulah kita belajar menjadi lebih kuat, lebih rendah hati, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada-Nya. Mungkin yang perlu berubah bukan hanya keadaan kita. Mungkin cara berpikir kita perlu berubah. Cara memperlakukan orang lain perlu berubah. Cara mengelola kehidupan perlu berubah. Cara menggunakan jabatan perlu berubah. Cara berbicara perlu berubah. Dan mungkin hati kita sendiri yang harus terlebih dahulu berubah.
Jadilah Saluran Berkat
Menurut saya, salah satu tanda bahwa kehidupan manusia sedang berubah ke arah yang lebih baik adalah ketika hidupnya semakin memberikan manfaat kepada orang lain. Tidak perlu menunggu kaya untuk menjadi berkat. Kalau mempunyai ilmu, bagikan. Kalau mempunyai jaringan, bantu membuka jalan. Kalau mempunyai jabatan, gunakan untuk melayani. Kalau mempunyai rezeki lebih, bantulah sesuai kemampuan. Kalau tidak mempunyai materi, kita masih dapat memberikan waktu, perhatian, nasihat, doa, dan semangat. Hidup jangan hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” Sesekali tanyakan juga, “Apa yang dapat saya berikan?” Karena ketika manusia mulai hidup untuk memberikan manfaat kepada sesama, ia sedang menjalani kehidupan yang jauh lebih bermakna.
Mulailah Perubahan dari Diri Sendiri
Kita sering ingin keluarga berubah. Kita ingin lingkungan berubah. Kita ingin masyarakat berubah. Kita ingin pemimpin berubah. Kita ingin keadaan ekonomi berubah. Kita ingin dunia berubah. Tetapi perubahan besar sering dimulai dari satu tempat yang paling dekat: diri sendiri. Sebelum meminta orang lain lebih jujur, jadilah jujur. Sebelum meminta orang lain rendah hati, rendahkanlah diri. Sebelum meminta orang lain mengampuni, belajarlah mengampuni. Sebelum meminta orang lain melayani, mulailah melayani. Sebelum meminta Tuhan mengubah keadaan, beranilah bertanya: “Tuhan, apa yang harus Engkau ubah dalam diri saya?” Itulah menurut saya salah satu inti penting dari 2 Tawarikh 7:14: merendahkan diri, berdoa, mencari Tuhan, dan berbalik dari jalan yang salah. Bukan hanya meminta berkat, tetapi membiarkan Tuhan membentuk kehidupan kita. Bukan hanya meminta jalan keluar, tetapi belajar berjalan di jalan yang benar. Bukan hanya meminta keadaan berubah, tetapi bersedia menjadi manusia yang berubah. Doa sejati tidak berhenti pada kata-kata. Doa sejati seharusnya membawa kita kepada kerendahan hati, pertobatan, tindakan, dan perubahan kehidupan. Karena itu, ketika hidup sedang menghadapi persoalan, jangan hanya bertanya, “Tuhan, kapan keadaan ini berubah?” Beranilah juga bertanya: “Tuhan, apa yang harus saya ubah?” Bisa jadi, dari pertanyaan sederhana itulah sebuah kehidupan baru dimulai.
