Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Banyak orang tertarik menjadi pelaku UMKM karena melihat peluang mendapatkan penghasilan dari usaha sendiri. Ada yang memulai dari rumah, membuka warung kecil, menjual makanan, menjadi reseller, memproduksi kerajinan, atau menawarkan berbagai jasa. Namun menjalankan usaha tidak cukup hanya dengan memiliki produk dan mendapatkan pelanggan. Salah satu hal yang sangat menentukan keberlangsungan UMKM adalah kemampuan mengelola keuangan dengan disiplin. Menurut saya, pelaku UMKM harus mulai mengubah cara pandang. Jangan hanya bertanya berapa omzet yang diperoleh, tetapi tanyakan berapa keuntungan yang benar-benar tersisa.
Omzet Bukan Keuntungan
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap seluruh uang hasil penjualan sebagai keuntungan. Padahal omzet masih harus dikurangi biaya bahan baku, transportasi, listrik, sewa tempat, gaji, pemasaran, biaya operasional, dan berbagai biaya lainnya. Misalnya sebuah usaha mendapatkan penjualan Rp1 juta dalam satu hari. Angka tersebut terlihat besar, tetapi jika biaya untuk menghasilkan dan menjual produk mencapai Rp800 ribu, keuntungan sebenarnya hanya Rp200 ribu. Karena itu, pelaku UMKM harus memahami perbedaan antara omzet, modal, biaya, dan keuntungan. Usaha yang ramai belum tentu usaha yang sehat apabila pemiliknya tidak mengetahui berapa keuntungan sebenarnya.
Pisahkan Uang Usaha dan Uang Rumah Tangga
Hal sederhana yang sering dilupakan adalah memisahkan uang usaha dengan uang pribadi. Ketika uang hasil penjualan langsung digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara modal juga ikut terpakai, pelaku usaha akan kesulitan mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya. Mulailah menggunakan rekening atau pencatatan terpisah. Tentukan berapa uang yang boleh diambil untuk kebutuhan pribadi dan berapa yang harus tetap berada di dalam usaha. Jangan mengambil seluruh uang usaha hanya karena merasa itu adalah uang milik sendiri. Sebagian uang tersebut adalah modal untuk membuat usaha tetap hidup.
Catat Semua Transaksi
UMKM tidak harus menggunakan sistem akuntansi yang rumit untuk mulai tertib. Buku sederhana atau aplikasi pencatatan keuangan sudah cukup sebagai langkah awal. Catat pemasukan, pengeluaran, pembelian bahan, biaya operasional, utang usaha, piutang, dan keuntungan. Dari catatan tersebut, pemilik usaha dapat mengetahui produk yang paling menguntungkan, biaya yang terlalu besar, serta perkembangan penjualan. Apa yang tidak dicatat akan sulit dikendalikan.
Jangan Terlalu Cepat Menambah Utang
Modal memang penting untuk mengembangkan usaha. Namun utang harus dihitung dengan hati-hati. Jangan mengambil pinjaman hanya karena melihat peluang tanpa menghitung kemampuan membayar. Pelaku UMKM harus memahami berapa cicilan yang harus dibayar, berapa keuntungan usaha, dan bagaimana kondisi arus kas setiap bulan. Utang yang digunakan untuk kegiatan produktif dan mampu menghasilkan keuntungan dapat menjadi alat pertumbuhan. Sebaliknya, utang yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi beban yang menghambat usaha. Jangan menggunakan utang untuk menutupi kebiasaan pengelolaan keuangan yang tidak sehat.
Keuntungan Harus Diputar untuk Bertumbuh
Ketika mendapatkan keuntungan, tidak semuanya harus langsung digunakan untuk konsumsi. Sebagian sebaiknya dikembalikan kepada usaha. Keuntungan dapat digunakan untuk menambah stok, membeli peralatan, memperbaiki kemasan, meningkatkan pemasaran, mengembangkan produk, atau meningkatkan kualitas pelayanan. Keuntungan yang dikelola dengan disiplin dapat berubah menjadi modal, aset, dan kapasitas usaha yang lebih besar.
Bangun Dana Cadangan
Usaha tidak selalu berjalan dalam kondisi yang sama. Ada masa penjualan meningkat, tetapi ada pula masa ketika pelanggan berkurang atau biaya operasional meningkat. Karena itu, UMKM perlu mempunyai dana cadangan. Tidak harus langsung besar. Yang penting dibangun secara bertahap dari sebagian keuntungan. Dana cadangan dapat membantu usaha menghadapi kondisi tidak terduga tanpa harus langsung mencari pinjaman baru. Usaha yang kuat bukan hanya siap menghadapi masa ramai, tetapi juga mampu bertahan ketika pasar sedang sepi.
Keuangan yang Sehat Membuka Jalan Naik Kelas
Ketika keuangan sudah tertib, pelaku UMKM akan lebih mudah mengambil keputusan. Mereka dapat mengetahui kapan harus menambah modal, merekrut karyawan, membuka cabang, atau menahan ekspansi. Pengelolaan keuangan yang baik juga membuat usaha lebih siap ketika ingin bekerja sama dengan perbankan, investor, perusahaan lain, maupun lembaga pemerintah. Menurut saya, profesionalisme UMKM dimulai dari keberanian untuk mengetahui kondisi keuangan usaha sendiri.
Pemerintah Perlu Memperkuat Literasi Keuangan UMKM
Pemerintah juga mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan. Pelatihan jangan hanya berfokus pada pemasaran dan produksi. Literasi keuangan, pencatatan transaksi, pengelolaan arus kas, perhitungan harga pokok, perencanaan modal, dan pemahaman pembiayaan juga harus menjadi bagian penting dari pendampingan UMKM. UMKM yang memiliki produk bagus tetapi tidak mampu mengelola keuangannya akan sulit bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, membangun UMKM berarti juga membangun kemampuan pemiliknya dalam mengambil keputusan keuangan secara bijak.
UMKM Harus Berpikir Jangka Panjang
Saya percaya setiap usaha kecil mempunyai peluang untuk berkembang. Tetapi pertumbuhan tidak hanya membutuhkan keberanian menjual. Pertumbuhan membutuhkan disiplin mengelola. Mulailah dari hal sederhana: catat semua transaksi, pisahkan uang usaha dan pribadi, hitung keuntungan dengan benar, kendalikan utang, siapkan dana cadangan, dan putar kembali sebagian keuntungan untuk mengembangkan usaha. Jangan terjebak pada kebanggaan melihat omzet besar jika pada akhirnya tidak ada keuntungan yang tersisa.
UMKM yang kuat bukan hanya yang mampu menjual banyak, tetapi yang mampu mengelola hasil penjualannya dengan benar. Pada akhirnya, tujuan membangun usaha bukan sekadar agar dagangan laku setiap hari. Tujuannya adalah menciptakan usaha yang sehat, menguntungkan, mampu bertahan, membuka lapangan kerja, dan terus berkembang dari tahun ke tahun.
Jangan hanya kejar omzet. Kelola keuangan dengan cerdas, karena dari keuangan yang sehat lahir UMKM yang kuat dan mampu naik kelas.
