Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” — Matius 7:3–5
Firman Tuhan dalam Matius 7:3–5 merupakan teguran yang sangat kuat bagi kehidupan manusia. Ayat ini bukan hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi pertama-tama kepada diri kita sendiri. Tuhan mengingatkan bahwa manusia sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sering kali sulit melihat kesalahan dirinya sendiri. Menurut saya, inilah salah satu fenomena yang sangat terasa dalam kehidupan saat ini. Di zaman media sosial, manusia begitu cepat memberi komentar, penilaian, kritik, bahkan penghukuman terhadap orang lain. Kesalahan orang lain mudah dibicarakan. Kekurangan orang lain cepat disebarkan. Kegagalan orang lain dengan cepat menjadi bahan pembicaraan. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa paling benar hanya karena mampu menunjukkan kelemahan orang lain. Padahal belum tentu kita mempunyai keberanian yang sama untuk berdiri di depan cermin dan bertanya dengan jujur: Apakah saya sendiri sudah benar? Apakah saya juga tidak mempunyai kekurangan? Apakah saya pernah melukai orang lain? Apakah saya sudah hidup sesuai dengan nilai-nilai yang saya ucapkan? Inilah sebabnya firman Tuhan ini sangat penting. Iman bukan sekadar pandai menasihati. Iman bukan sekadar mampu mengutip ayat. Iman bukan sekadar terlihat rohani di depan banyak orang. Iman yang sejati dimulai dari kerendahan hati untuk mengoreksi diri sendiri.
Zaman Sekarang Terlalu Mudah Menghakimi
Kalau kita perhatikan, hari-hari ini begitu banyak orang lebih sibuk membicarakan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Ada yang mengomentari rumah tangga orang lain, tetapi rumah tangganya sendiri penuh persoalan. Ada yang keras menilai moral orang lain, tetapi dirinya sendiri belum tentu hidup lurus. Ada yang suka menuntut orang lain berubah, tetapi dirinya sendiri menolak ditegur. Fenomena ini semakin kuat karena adanya media sosial. Setiap orang bisa menulis apa saja. Setiap orang bisa memberikan opini. Setiap orang bisa menghakimi tanpa mengenal utuh masalah yang sebenarnya. Kadang orang hanya melihat potongan cerita, tetapi merasa sudah berhak mengambil kesimpulan besar. Menurut saya, inilah salah satu penyakit zaman ini: cepat menilai, lambat memahami; mudah menyalahkan, sulit mengoreksi diri. Padahal Tuhan tidak mengajarkan kita untuk hidup seperti itu. Tuhan tidak mengajar kita menjadi orang yang sibuk mencari-cari salah sesama. Tuhan justru mengajar kita untuk terlebih dahulu membersihkan hati, pikiran, dan tindakan kita sendiri. Karena itu, sebelum kita menunjuk kesalahan orang lain, ada baiknya kita bertanya: Apakah perkataan saya sudah benar? Apakah tindakan saya sudah adil? Apakah hati saya sudah bersih? Apakah saya juga tidak sedang melakukan kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar?
Iman Harus Dimulai dari Cermin Diri
Matius 7:3–5 mengajak kita untuk bercermin. Bukan bercermin untuk melihat wajah, tetapi bercermin untuk melihat hati. Manusia sering merasa dirinya paling benar karena ia terlalu jarang memeriksa isi hidupnya sendiri. Menurut saya, perubahan terbesar dalam hidup seseorang sering kali tidak terjadi ketika dia berhasil menemukan kesalahan orang lain, tetapi ketika dia berani mengakui kesalahannya sendiri. Ada orang yang hubungannya dengan keluarga rusak bukan karena orang lain saja, tetapi juga karena sikap kerasnya sendiri. Ada orang yang relasinya dengan teman, rekan kerja, atau sesama jemaat terganggu karena egonya sendiri. Ada orang yang merasa tidak dihargai, padahal selama ini dia juga tidak menghargai orang lain. Ada orang yang merasa dikhianati, tetapi dia lupa bahwa mungkin sebelumnya dia juga pernah mengecewakan orang lain. Kalau kita mau jujur, banyak persoalan hidup sebenarnya dapat mulai membaik ketika kita berhenti hanya bertanya, “Siapa yang salah?” lalu mulai bertanya, “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?” Itulah sebabnya saya percaya bahwa iman harus dimulai dari cermin diri. Orang yang sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan justru biasanya lebih hati-hati menilai orang lain, karena ia sadar bahwa dirinya sendiri pun masih terus dibentuk Tuhan.
Lebih dari 30 Tahun Menjadi Pelayan Nasabah Mengajarkan Saya Banyak Hal
Dalam perjalanan kehidupan saya, lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pelayan nasabah, khususnya di wilayah Depok. Selama masa pengabdian tersebut, saya bertemu dengan ribuan orang dari berbagai latar belakang kehidupan. Ada pedagang kecil, pelaku UMKM, pekerja, kepala keluarga, dan masyarakat yang datang dengan harapan agar hidup mereka bisa menjadi lebih baik. Saya berkesempatan membantu banyak masyarakat memperoleh fasilitas kredit dan manfaat layanan perbankan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang mempunyai cerita, perjuangan, dan pergumulannya masing-masing. Karena itu, kita tidak boleh sembarangan menilai hidup seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan. Di balik seorang nasabah yang datang meminjam modal, mungkin ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan usaha. Di balik wajah seseorang yang tampak tenang, mungkin ada beban ekonomi yang berat. Di balik seseorang yang tampak sederhana, mungkin ada semangat luar biasa untuk membangun masa depan keluarganya. Pengalaman panjang melayani masyarakat di dunia perbankan mengajarkan saya bahwa manusia membutuhkan lebih banyak kepedulian daripada penghakiman. Orang yang sedang susah tidak membutuhkan dihina. Orang yang sedang jatuh tidak membutuhkan direndahkan. Orang yang sedang berjuang tidak membutuhkan dipermalukan. Mereka membutuhkan jalan keluar, dukungan, dan hati yang mau memahami. Menurut saya, inilah pelajaran penting dalam hidup: kalau kita bisa membantu, bantulah; kalau kita bisa menguatkan, kuatkanlah; kalau kita belum bisa menolong dengan banyak, setidaknya jangan menambah luka dalam hidup orang lain.
Kebaikan yang Tulus Tidak Pernah Sia-Sia
Saya juga belajar bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus sering kali meninggalkan jejak yang panjang dalam kehidupan orang lain. Ketika saya kemudian mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di Kota Depok, banyak orang yang pernah saya kenal dan jumpai selama perjalanan hidup ikut membantu. Ada yang memberikan doa. Ada yang memberikan dukungan. Ada yang menyampaikan kepada keluarga, teman, dan lingkungannya. Ada juga yang memberikan kepercayaan melalui suaranya. Bagi saya, pengalaman itu bukan sekadar soal politik. Lebih dari itu, saya melihatnya sebagai pengingat bahwa kebaikan yang ditanam dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang. Kita mungkin lupa pernah membantu seseorang, tetapi orang yang pernah merasakan ketulusan kita belum tentu melupakannya. Namun saya juga percaya, kita tidak boleh berbuat baik supaya dipuji atau supaya dibalas. Kebaikan harus lahir dari hati yang tulus. Kalau Tuhan mengizinkan kebaikan itu kembali kepada hidup kita, bersyukurlah. Kalau tidak pun, tetaplah menjadi orang baik. Menurut saya, hidup akan jauh lebih damai ketika kita tidak sibuk mencari pengakuan manusia, tetapi fokus menjadi pribadi yang bermanfaat di hadapan Tuhan.
Dari Pelayan Nasabah, Penetua Gereja, Hingga Pelayan Masyarakat
Kalau saya melihat perjalanan hidup saya, ada satu kata yang selalu hadir, yaitu pelayanan. Ketika bekerja di Bank BRI, saya belajar melayani masyarakat sebagai pelayan nasabah. Dalam kehidupan gereja, ketika diberikan kepercayaan sebagai penetua, saya belajar bahwa melayani Tuhan juga berarti mengasihi dan melayani sesama. Dan hari ini, ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi pelayan masyarakat, saya kembali diingatkan bahwa jabatan pada dasarnya adalah amanah untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri. Menurut saya, jabatan apa pun seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap, perkataan, dan tindakan. Jangan sampai kita sibuk menuntut orang lain berubah, tetapi diri kita sendiri tidak berubah. Jangan sampai kita keras mengoreksi orang lain, tetapi menutup telinga terhadap koreksi untuk diri kita sendiri. Firman Tuhan dalam Matius 7:3–5 sangat relevan dalam hal ini. Sebelum kita mengoreksi orang lain, kita harus mau terlebih dahulu dikoreksi oleh Tuhan. Sebelum kita berbicara tentang kesalahan orang lain, kita harus berani membereskan hati dan hidup kita sendiri.
Orang Baik Tidak Selalu Ramai Bicara, Tetapi Banyak Manfaatnya
Di zaman sekarang, ada kecenderungan orang ingin terlihat baik di depan publik, tetapi belum tentu sungguh-sungguh baik dalam tindakan. Ada yang perkataannya manis, tetapi tindakannya melukai. Ada yang aktif memberi nasihat, tetapi hidupnya sendiri berantakan. Ada yang suka tampil rohani, tetapi sulit rendah hati. Menurut saya, menjadi orang baik tidak cukup hanya dengan kata-kata. Orang baik adalah orang yang kehadirannya membawa manfaat. Orang baik adalah orang yang tulus membantu tanpa harus selalu diumumkan. Orang baik adalah orang yang tetap mau berbuat baik meskipun tidak semua orang menghargainya. Kalau kita ingin hidup yang berkenan kepada Tuhan, jangan hanya sibuk membangun citra. Bangunlah karakter. Jangan hanya sibuk dinilai baik oleh manusia. Berjuanglah sungguh-sungguh supaya hidup kita memang bermanfaat bagi sesama. Kalau kita mampu menolong seseorang, lakukanlah. Kalau kita mampu memberi semangat, berikanlah. Kalau kita mampu menjadi jembatan bagi orang lain untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik, jadilah jembatan itu. Karena saya percaya, alam kehidupan dan kuasa Tuhan juga bekerja menolong orang yang tulus menabur kebaikan.
Jangan Takut Mengakui Kesalahan
Salah satu bentuk kedewasaan iman adalah keberanian untuk berkata, “Mungkin saya juga salah.” Kalimat ini sederhana, tetapi tidak mudah. Ego manusia sering membuat kita lebih nyaman menyalahkan orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri. Padahal pengakuan atas kesalahan bukan kelemahan. Justru itu adalah kekuatan. Orang yang berani mengakui kesalahan menunjukkan bahwa ia masih mempunyai hati yang lembut dan mau dibentuk. Kalau kita pernah menyakiti orang lain, akuilah. Kalau kita pernah terlalu keras menilai orang lain, rendahkanlah hati. Kalau kita pernah bersikap sombong, bertobatlah. Kalau kita pernah menggunakan kata-kata yang melukai, mintalah maaf. Sebab tidak ada pertobatan tanpa kejujuran terhadap diri sendiri. Menurut saya, banyak hubungan yang rusak bisa dipulihkan kalau manusia lebih cepat mengoreksi diri daripada menghakimi sesama.
Jadilah Saluran Berkat
Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya dengan mencari-cari salah orang lain. Hidup akan jauh lebih bermakna kalau kita memakainya untuk menjadi saluran berkat. Tuhan tidak menempatkan kita di dunia ini hanya untuk mengomentari kehidupan orang lain. Tuhan memanggil kita untuk membawa manfaat, menebar kasih, menolong sesama, dan hidup dengan kerendahan hati. Kalau kita menjadi orang baik, lakukan yang terbaik untuk membantu orang lain dengan tulus. Jangan takut berbuat baik. Jangan takut menjadi manfaat. Jangan takut melayani. Sebab kebaikan yang lahir dari hati yang tulus tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak selalu langsung terlihat hasilnya, tetapi Tuhan mengetahui semuanya. Biarlah hidup kita bukan menjadi sumber luka, tetapi sumber pertolongan. Bukan menjadi beban bagi sesama, tetapi menjadi kekuatan. Bukan menjadi orang yang sibuk menghakimi, tetapi menjadi pribadi yang mau memahami, menolong, dan memperbaiki diri. Firman Tuhan mengingatkan kita: sebelum melihat selumbar di mata saudara kita, keluarkan dahulu balok dari mata kita sendiri. Artinya, sebelum sibuk menilai orang lain, benahilah diri sendiri terlebih dahulu. Iman harus dimulai dari cermin diri. Dari situlah lahir kerendahan hati. Dari situlah lahir pertobatan. Dari situlah lahir kasih yang tulus. Dan dari situlah hidup kita dapat benar-benar menjadi saluran berkat dan bermanfaat bagi banyak orang.
Janganlah kita hanya pandai menilai, tetapi marilah kita juga berani mengoreksi diri. Sebab orang yang dekat dengan Tuhan bukanlah orang yang merasa paling benar, melainkan orang yang terus mau dibentuk menjadi lebih baik.
