Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Banyak orang sebenarnya mempunyai keinginan untuk membuka usaha. Ada yang ingin berjualan makanan, membuka toko kecil, menjadi reseller, menawarkan jasa, berdagang secara daring, atau mengembangkan keterampilan menjadi sumber penghasilan. Namun keinginan itu sering berhenti karena satu pikiran: modal saya belum cukup besar. Akhirnya, rencana terus ditunda. Menunggu uang terkumpul, menunggu tempat usaha yang bagus, menunggu peralatan lengkap, bahkan menunggu keadaan yang dianggap benar-benar sempurna. Padahal menurut saya, dalam dunia usaha, tidak semua hal harus dimulai dalam keadaan sempurna. Banyak usaha besar justru berawal dari sesuatu yang kecil.
Usaha kecil bukan berarti cita-citanya kecil
Memulai usaha dari rumah, dari satu meja, dari beberapa produk, atau dari pemasaran melalui telepon genggam bukan sesuatu yang perlu dianggap rendah. Yang penting adalah usaha tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh. Seorang pedagang mungkin awalnya hanya mampu menjual beberapa bungkus makanan setiap hari. Seorang pelaku jasa mungkin memulai hanya dengan satu atau dua pelanggan. Seorang reseller mungkin belum mempunyai toko dan hanya menawarkan barang melalui media sosial. Tetapi dari proses kecil itulah seseorang mulai belajar. Belajar mencari pelanggan, menghitung keuntungan, mengatur modal, menghadapi komplain, menjaga kualitas, membaca kebutuhan pasar, dan membangun kepercayaan. Pengalaman tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan menunggu.
Modal penting, tetapi keberanian memulai juga penting
Saya tidak mengatakan bahwa modal tidak penting. Modal tetap dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Namun kita juga harus memahami bahwa modal tidak selalu berarti uang dalam jumlah besar. Kemampuan, keterampilan, jaringan, kepercayaan, waktu, pengalaman, dan kemauan bekerja keras juga merupakan bagian dari modal. Menurut saya, persoalan yang sering terjadi bukan selalu karena seseorang sama sekali tidak mempunyai modal, tetapi karena merasa modal yang dimilikinya terlalu kecil untuk memulai. Padahal yang lebih penting adalah menyesuaikan jenis usaha dengan kemampuan yang tersedia. Jika modal masih kecil, mulailah dari skala kecil. Jangan memaksakan usaha besar dengan biaya yang terlalu berat.
Jangan malu berjualan
Ada juga orang yang mempunyai kemampuan dan kesempatan berusaha, tetapi merasa malu untuk mulai berjualan. Takut dianggap gagal. Takut dilihat teman. Takut usahanya terlalu kecil. Bahkan ada yang lebih nyaman terlihat berhasil daripada benar-benar berproses menuju keberhasilan. Cara berpikir seperti ini perlu kita ubah. Menurut saya, tidak ada pekerjaan halal yang perlu dipermalukan. Selama dilakukan dengan jujur, tidak merugikan orang lain, dan memberikan penghasilan bagi keluarga, usaha sekecil apa pun layak dihargai. Yang seharusnya menjadi perhatian bukan besar atau kecilnya usaha hari ini, tetapi apakah usaha tersebut terus belajar dan berkembang.
Mulai kecil, tetapi harus dihitung
Keberanian memulai juga harus disertai perhitungan. Jangan hanya karena ingin cepat menjadi pengusaha lalu seluruh tabungan dihabiskan tanpa perencanaan. Mulailah dengan menghitung kebutuhan modal, biaya operasional, harga jual, keuntungan, risiko, dan siapa calon pembelinya. Pengalaman saya di dunia perbankan mengajarkan bahwa usaha yang sehat bukan hanya usaha yang berani mengambil peluang, tetapi juga usaha yang memahami kemampuan membayar, arus kas, dan risiko. Karena itu, berani memulai bukan berarti berani nekat. Keberanian harus berjalan bersama perhitungan.
Jangan langsung mengejar keuntungan besar
Pada tahap awal, tujuan usaha sebaiknya tidak hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Bangun dahulu pelanggan, Bangun kualitas, Bangun kepercayaan, Bangun pencatatan keuangan, Bangun kebiasaan disiplin. Jika fondasinya kuat, usaha mempunyai kesempatan lebih besar untuk berkembang. Keuntungan besar biasanya bukan datang dari satu transaksi, tetapi dari proses panjang ketika pelanggan terus kembali dan usaha semakin dipercaya.
Usaha harus bertumbuh
Memulai dari kecil bukan berarti selamanya harus kecil. Setiap pelaku usaha perlu mempunyai keinginan untuk berkembang. Jika awalnya menjual 10 produk sehari, pikirkan bagaimana menjadi 20. Jika awalnya hanya melayani satu lingkungan, pikirkan bagaimana memperluas pasar. Jika awalnya seluruh pekerjaan dilakukan sendiri, perlahan bangun sistem agar suatu saat dapat membuka lapangan pekerjaan. Keuntungan jangan seluruhnya digunakan untuk konsumsi. Sisihkan sebagian untuk tambahan modal, peralatan, promosi, peningkatan kualitas, dan dana cadangan. Dengan cara seperti itu, usaha kecil perlahan dapat membangun aset dan menjadi semakin kuat.
Yang paling berbahaya adalah tidak pernah memulai
Tidak ada jaminan setiap usaha langsung berhasil. Bisa saja ada produk yang tidak laku. Bisa salah menentukan harga. Bisa memilih lokasi yang kurang tepat. Bisa mengalami kerugian. Tetapi kegagalan kecil juga dapat menjadi pelajaran untuk memperbaiki langkah berikutnya. Yang lebih berbahaya adalah mempunyai ide bertahun-tahun tetapi tidak pernah mencoba apa pun. Menurut saya, banyak orang tidak kekurangan ide. Yang sering kurang adalah keberanian mengambil langkah pertama. Tidak perlu selalu menunggu modal besar, tempat yang sempurna, atau keadaan yang ideal. Mulailah dari kemampuan yang ada. Mulailah kecil, kelola dengan benar, belajar dari pasar, dan bertumbuh sedikit demi sedikit. Karena dalam usaha, langkah kecil yang benar hari ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar di kemudian hari. Jangan takut memulai usaha dari kecil. Yang berbahaya justru ketika kesempatan terus lewat karena kita tidak pernah berani memulai.
