Depok – Persaingan di dunia kerja semakin kompetitif. Perkembangan teknologi, transformasi digital, serta perubahan kebutuhan industri membuat lulusan baru dari sekolah maupun perguruan tinggi dituntut memiliki kompetensi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Di tengah tantangan tersebut, Anggota DPRD Kota Depok St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. menilai bahwa pembaruan kurikulum pendidikan berbasis kebutuhan industri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan Indonesia. Menurut Binton, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki sebagian lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, sinergi antara lembaga pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah harus semakin diperkuat.”Saat ini dunia kerja berkembang sangat cepat. Kurikulum pendidikan harus mampu mengikuti perubahan tersebut agar lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pendidikan harus melahirkan talenta yang siap bekerja, berinovasi, dan mampu bersaing di era digital,” ujar Binton.
Binton yang juga merupakan Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum Bisnis Universitas Kristen Indonesia (UKI) mengatakan bahwa konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri harus diterapkan secara konsisten, mulai dari penyusunan kurikulum, program magang, hingga sertifikasi kompetensi. Menurutnya, pelaku industri perlu dilibatkan secara aktif dalam memberikan masukan mengenai keterampilan yang dibutuhkan agar proses pembelajaran lebih relevan dengan perkembangan pasar kerja.”Kolaborasi antara kampus, sekolah vokasi, dunia usaha, dan pemerintah harus menjadi agenda bersama. Dunia pendidikan tidak boleh berjalan sendiri, tetapi harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri yang terus berubah,” katanya. Berbekal pengalaman selama 31 tahun berkarier di Bank Rakyat Indonesia (BRI), Binton juga menilai bahwa dunia kerja saat ini membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis (hard skills), tetapi juga keterampilan komunikasi, kepemimpinan, integritas, kemampuan bekerja dalam tim, serta literasi keuangan dan digital. Ia menilai kemampuan tersebut menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin dinamis.”Perusahaan saat ini mencari SDM yang adaptif, memiliki etos kerja yang baik, mampu memanfaatkan teknologi, dan cepat belajar. Oleh karena itu, pendidikan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi pengembangan karakter, keterampilan digital, dan pengalaman praktik di lapangan,” jelasnya.
Sebagai Anggota DPRD Kota Depok, Binton melihat bahwa Kota Depok memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan nasional dengan banyaknya perguruan tinggi, sekolah vokasi, dan lembaga pelatihan. Potensi tersebut dinilai harus dimanfaatkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan berkualitas dan siap menghadapi tantangan global. Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperluas kerja sama dengan perusahaan, kawasan industri, serta pelaku UMKM agar mahasiswa dan siswa memiliki lebih banyak kesempatan mengikuti program magang, pelatihan, maupun praktik kerja. Selain itu, Binton menilai penguatan pendidikan kewirausahaan perlu menjadi bagian penting dalam kurikulum. Menurutnya, lulusan tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga didorong menjadi pencipta lapangan kerja melalui inovasi dan pengembangan usaha.”Generasi muda harus memiliki keberanian untuk berwirausaha. Jika pendidikan mampu membangun jiwa kewirausahaan sejak dini, maka akan lahir lebih banyak pelaku usaha baru yang mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” ungkapnya. Binton menambahkan bahwa perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), analisis data, keamanan siber, ekonomi digital, dan transformasi bisnis akan terus mengubah kebutuhan tenaga kerja di masa depan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan harus dirancang lebih adaptif agar lulusan memiliki daya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia berharap pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat dapat memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan yang responsif terhadap perkembangan zaman.”Indonesia memiliki bonus demografi yang sangat besar. Apabila kita mampu menyiapkan lulusan yang kompeten, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan industri, maka bonus demografi akan menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas nasional, dan mewujudkan Indonesia yang lebih maju,” tutup Binton.
