Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, berprestasi, dan mempunyai masa depan yang baik. Namun menurut saya, mendorong anak untuk berhasil tidak cukup hanya dengan menyuruhnya belajar lebih lama atau menuntut nilai yang tinggi. Anak juga membutuhkan lingkungan keluarga yang mendukung, komunikasi yang sehat, kebiasaan belajar yang baik, serta orang tua yang mampu memahami perkembangan dan kebutuhan mereka.
Tidak sedikit orang tua merasa frustrasi ketika anak sulit fokus, malas belajar, terlalu sering menggunakan gawai, atau mulai sulit diajak berkomunikasi ketika memasuki usia remaja. Dalam keadaan seperti ini, marah dan memberikan tekanan berlebihan belum tentu menyelesaikan persoalan. Justru yang diperlukan adalah pendekatan yang lebih tepat.
Bangun Kebiasaan Belajar, Jangan Hanya Menuntut Nilai
Menurut saya, nilai yang baik seharusnya menjadi hasil dari proses belajar yang baik. Anak perlu dibantu menemukan cara belajar yang sesuai, mempunyai jadwal yang teratur, memahami prioritas, dan belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya. Orang tua dapat membantu dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman, mengurangi gangguan ketika anak belajar, serta memberikan kesempatan untuk beristirahat. Jangan hanya bertanya, “Berapa nilaimu?” tetapi tanyakan juga, “Apa yang kamu pelajari hari ini? Bagian mana yang belum kamu pahami?” Dengan cara tersebut, perhatian orang tua tidak hanya berpusat pada angka, tetapi juga pada proses perkembangan anak.
Komunikasi Lebih Efektif daripada Kemarahan
Ketika anak melakukan kesalahan atau prestasinya menurun, reaksi pertama orang tua sering kali adalah memarahi. Padahal menurut saya, komunikasi yang baik jauh lebih efektif daripada tekanan yang terus-menerus. Anak, terutama remaja, membutuhkan ruang untuk didengar. Orang tua perlu memahami apa yang sedang mereka alami, siapa lingkungan pergaulannya, apa yang membuat mereka kehilangan semangat, dan apa yang menjadi kekhawatiran mereka. Tegas tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus selalu disampaikan dengan suara keras. Jelaskan aturan, konsekuensi, dan harapan secara jelas. Pada saat yang sama, dengarkan pula pandangan anak. Hubungan yang dekat membuat anak lebih mudah menerima arahan.
Bangun Mental, Karakter, dan Tujuan Hidup Anak
Pendidikan bukan hanya tentang nilai rapor. Anak juga perlu dibekali dengan disiplin, keberanian mencoba, kemampuan menerima kegagalan, tanggung jawab, serta tujuan hidup. Tidak semua anak mempunyai kemampuan dan minat yang sama. Ada yang unggul secara akademik, ada yang kuat dalam seni, olahraga, teknologi, komunikasi, atau kewirausahaan. Tugas orang tua bukan menjadikan anak seperti orang lain, tetapi membantu mereka menemukan potensi terbaiknya. Menurut saya, anak yang memahami tujuan akan mempunyai alasan yang lebih kuat untuk belajar. Karena itu, ajak mereka berbicara tentang cita-cita, kemampuan, pilihan pendidikan, dan masa depan. Berikan dukungan, tetapi tetap ajarkan bahwa keberhasilan membutuhkan proses, kerja keras, dan konsistensi. Pada akhirnya, keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di rumah, anak belajar tentang disiplin, kasih sayang, tanggung jawab, komunikasi, dan bagaimana menghadapi persoalan.
Saran saya kepada para orang tua jangan hanya menuntut anak menjadi pintar. Jadilah pendamping dalam proses mereka bertumbuh. Dengarkan lebih banyak, komunikasikan harapan dengan baik, bantu membangun kebiasaan belajar, dan hargai setiap perkembangan kecil.
Karena menurut saya, keberhasilan anak bukan hanya ketika ia mendapatkan nilai tinggi, tetapi ketika ia tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai ilmu, karakter, kepercayaan diri, tujuan hidup, dan hubungan yang baik dengan keluarganya.(BN)
