Persahabatan, Investasi, Generasi Muda, dan Masa Depan Ekonomi Asia
Oleh: Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Mahasiswa Program Doktor Hukum (Hukum Bisnis) Universitas Kristen Indonesia
Ada obrolan yang sekadar menghibur, tetapi ada pula obrolan ringan yang membuat isi kepala kita bertambah. Saya melihat hal kedua itu ketika menyaksikan percakapan Prof. Rhenald Kasali dan Helmy Yahya di dalam sebuah mobil listrik VinFast, menarik hingga saya menjadikan sebuah tulisan. Keduanya adalah figur yang saya kenal dengan baik. Prof Rhenald Kasali.Ph.D dan Helmy Yahya, dalam buku tulisan saya dan sudah terbit, kedua tokoh ini pernah menulis kata pengantar dan kata sambutan.Pertemuan dan komunikasi kami tidak hanya sekali dua kali. Saya beberapa kali berjumpa langsung dan tetap berkomunikasi melalui WhatsApp. Dari setiap pertemuan itu, ada sesuatu yang selalu saya rasakan berbicara dengan orang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan keluasan pandangan membuat kita pulang dengan “isi kepala” yang bertambah. Bagi saya, itulah salah satu nilai sebuah persahabatan, bukan sekadar mengenal seseorang, tetapi mendapatkan nilai tambah dari pengalaman dan pemikirannya.
Prof. Rhenald Kasali ( Pendiri dan Pemilik Rumah Perubahan ) dikenal sebagai akademisi, pakar manajemen dan perubahan yang konsisten berbicara mengenai transformasi, kewirausahaan, ekonomi, serta masa depan generasi muda, beberapa kami pernah membuat acara di rumah perubahan, beliau pembicara dan saya moderatornya. Sementara Helmy Yahya memiliki pengalaman panjang sebagai profesional televisi, komunikator, pembicara, pengusaha, dan kreator konten. Kami pernah bersama disatu partai dan saya menjadi tamu yang jadi narasumbernya di podcastnya, beliau hadir dan mempublikasikan apa yang menjadi perjuangan saya dan rencana kedepan perjuangan saya khususnya koleksi koleksi pribadi saya, kalau mau jelasnya tonton diyoutube di YouTube nya Helmy bicara.
Dua pribadi dengan bidang berbeda, tetapi mempunyai satu kesamaan mampu menerjemahkan persoalan serius menjadi pembicaraan yang mudah dicerna masyarakat. Dalam video tersebut, suasananya justru jauh dari pembicaraan akademis yang kaku. Helmy menyetir, sementara Prof. Rhenald menjadi penumpang. Mereka berbicara mengenai mobil listrik yang mereka gunakan, kenyamanannya, posisi kendaraan yang cukup tinggi, sampai candaan tentang menghadapi banyaknya polisi tidur di jalan. Helmy bercanda bahwa dirinya sedang menjadi sopir yang membawa seorang penumpang hebat. Prof. Rhenald pun membalas bahwa dirinya justru sedang disopiri oleh orang hebat. Saling memuji, tetapi disampaikan tanpa kehilangan humor.
Ada pula candaan mengenai “bayaran”. Prof. Rhenald seolah mengatakan ia membayar dengan apa ini karena sopirnya orang hebat, sedangkan Helmy mengatakan bahwa dirinya justru memperoleh ilmu dari seorang pakar ekonomi dan bertanya harus membayar dengan apa. Jawabannya kemudian diarahkan kepada dapat investasilah keduanya sedang didalam mobil VinFast. Sebuah permainan komunikasi yang ringan, tetapi sesungguhnya sangat efektif dalam membangun perhatian terhadap sebuah merek yang sedang mereka naiki. Di sinilah saya melihat bahwa percakapan mereka bukan sekadar mengenai sebuah mobil. Di balik kendaraan listrik tersebut terdapat cerita yang jauh lebih besar investasi, perubahan industri, persaingan ekonomi Asia, dan transformasi gaya hidup generasi baru.
VinFast bukan sekadar produk yang datang dari luar dan kemudian dijual di Indonesia. Perusahaan otomotif asal Vietnam itu telah membangun fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat, yang diresmikan pada 15 Desember 2025. Kapasitas awal fasilitas tersebut sekitar 50.000 kendaraan per tahun. VinFast juga menyatakan rencana meningkatkan investasinya di Indonesia hingga sekitar US$1 miliar, dengan ekspansi kapasitas produksi yang akan disesuaikan dengan perkembangan permintaan pasar.Investasi industri berbeda dengan sekadar menjual barang impor. Ketika sebuah perusahaan membangun pabrik, merekrut tenaga kerja, melibatkan pemasok lokal, mengembangkan jaringan penjualan, layanan purna jual, pembiayaan, serta infrastruktur pendukung, efek ekonominya menjadi lebih panjang.
VinFast bahkan menargetkan peningkatan tingkat lokalisasi menjadi lebih dari 40 persen pada 2026, kemudian 60 persen pada 2029, dengan pengembangan kawasan pemasok di sekitar kompleks Subang. Jika terealisasi secara konsisten, investasi seperti ini dapat membuka peluang bagi industri komponen, logistik, jasa, pembiayaan, teknologi, hingga UMKM yang masuk dalam rantai pasok. Inilah wajah baru persaingan ekonomi Asia. Dahulu, ketika berbicara mengenai industri otomotif Asia, perhatian masyarakat Indonesia hampir selalu tertuju pada Jepang dan Korea Selatan. Kini peta tersebut berubah. Tiongkok agresif dalam kendaraan listrik dan baterai. Vietnam melalui VinFast mulai memperluas jejak internasionalnya. India terus membangun kapasitas manufakturnya. Indonesia sendiri mempunyai modal penting berupa pasar domestik yang besar serta sumber daya yang berkaitan dengan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Dalam laporan perusahaan kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat, VinFast menyebut Asia Tenggara dan India sebagai bagian penting dari mesin pertumbuhan mereka. Indonesia dipandang strategis karena besarnya populasi, potensi pertumbuhan kendaraan listrik, serta peluang membangun basis produksi regional. Karena itu, ketika Prof. Rhenald dan Helmy berbicara santai mengenai kendaraan listrik di dalam sebuah mobil, saya melihat gambaran yang lebih luas. Mobil itu adalah simbol perubahan ekonomi. Kendaraan bagi generasi muda hari ini juga mulai mengalami perubahan makna. Mereka tidak hanya mencari mesin yang besar atau kendaraan sebagai simbol status. Pertimbangan semakin bergeser kepada teknologi, efisiensi, konektivitas, biaya penggunaan, desain, kenyamanan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Industri otomotif harus membaca perubahan tersebut. Tidak mengherankan apabila kendaraan listrik kemudian masuk ke ruang kehidupan generasi muda.
Saya juga melihatnya dari perspektif Hukum Bisnis. Kepercayaan terhadap figur seperti Rhenald Kasali dan Helmy Yahya memang memiliki nilai komunikasi yang besar. Ketika dua orang dengan reputasi dan pengalaman panjang memperkenalkan sebuah produk, masyarakat tentu memberikan perhatian lebih, jaringan tokoh kedua tokoh ini luas dan dalam media sosialnya yang memiliki jangkauan bebas dan followers jutaan. Akan tetapi, kepercayaan terhadap figur harus berjalan bersama pembuktian terhadap produknya. Kualitas kendaraan tetap harus dinilai dari keamanan, teknologi baterai, kenyamanan, harga yang kompetitif, ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, layanan purna jual, nilai jual kembali, serta kepastian perlindungan konsumennya. Justru apabila sebuah produk benar-benar baik, seluruh aspek tersebut akan memperkuat kepercayaan yang dibangun melalui komunikasi para tokoh publik. Bagi saya, itulah mengapa percakapan Prof. Rhenald Kasali dan Helmy Yahya terasa menarik.
Kita dapat tertawa mendengar candaan keduanya, tetapi pada saat yang sama terdapat pelajaran mengenai personal branding, investasi, pemasaran, perubahan teknologi, ekonomi Asia, dan masa depan mobilitas. Saya mengenal keduanya sebagai orang yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang masing-masing. Setiap kali bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang seperti mereka, saya selalu merasa mendapatkan sesuatu yang baru. Persahabatan yang sehat memang seharusnya demikian, membuat wawasan bertambah, cara berpikir berkembang, dan kualitas diri meningkat, kali ini, pelajarannya datang dari sebuah perjalanan singkat di dalam mobil listrik. Sesungguhnya mereka sedang membawa kita melihat sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang perjalanan menuju perubahan industri, masuknya investasi baru, tumbuhnya kekuatan ekonomi Asia, dan lahirnya generasi yang semakin terbuka terhadap teknologi hijau.
Pesan yang paling menarik. Kita tidak cukup hanya menjadi pasar. Indonesia harus mampu menjadikan investasi sebagai jalan menuju produksi, lapangan kerja, transfer teknologi, penguatan industri nasional, dan kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi dunia. Karena pada akhirnya, saya merasakan putriku yang berusia 22 tahun mengendarai mobil listrik, sering saya bawa setir sendiri bersama putriku, kendaraan listrik bukan hanya tentang kendaraan apa yang kita kendarai hari ini, tetapi juga tentang ke mana ekonomi Indonesia akan kita bawa esok hari.(BN)
