Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Dalam kehidupan keluarga maupun hubungan dengan sesama, kita sering berharap orang lain selalu melakukan segala sesuatu dengan benar. Padahal menurut saya, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang dapat lelah, melakukan kesalahan, mempunyai kekurangan, dan sesekali mengecewakan kita. Kedewasaan bukan terlihat dari kemampuan mencari kesalahan orang lain, melainkan dari cara kita menyikapi ketidaksempurnaan tersebut. Ada sebuah pelajaran sederhana tentang seorang ibu yang, setelah menjalani hari yang melelahkan, tanpa sengaja menyajikan roti yang terlalu gosong. Sang ayah tidak memperbesar kesalahan itu. Ia tetap menghargai makanan yang disediakan dan memilih menjaga perasaan istrinya. Dari kisah sederhana tersebut terdapat pelajaran besar, kesalahan kecil mungkin tidak terlalu menyakitkan, tetapi ucapan kasar dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama.
Belajarlah Menerima bahwa Tidak Ada Manusia yang Sempurna
Dalam keluarga, pekerjaan, organisasi, maupun pertemanan, kita pasti bertemu dengan kekurangan orang lain. Begitu pula orang lain harus menghadapi kekurangan kita. Menurut saya, hubungan yang sehat tidak dibangun karena semua orang sempurna, tetapi karena masing-masing mampu menerima, memahami, dan memperbaiki kekurangan bersama. Jangan terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena satu kesalahan. Kita tidak selalu mengetahui seberapa berat hari yang sedang dijalaninya. Menerima kekurangan bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Kita tetap boleh memberikan koreksi, tetapi lakukan dengan cara yang menghargai martabat dan perasaan orang lain.
Kesalahan Kecil Jangan Dibalas dengan Kata-Kata yang Melukai
Roti yang gosong mungkin hanya menjadi persoalan beberapa menit. Tetapi perkataan kasar dapat terus diingat seseorang selama bertahun-tahun. Karena itu menurut saya, kemampuan menjaga ucapan merupakan bagian penting dari kedewasaan. Ketika kecewa, jangan langsung berbicara dalam keadaan emosi. Ketika orang lain melakukan kesalahan, jangan menjadikan kesalahan tersebut alasan untuk merendahkannya. Kita mungkin dapat meminta maaf setelah mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, tetapi kata-kata yang sudah keluar tidak selalu mudah dihapus dari ingatan orang lain. Terkadang menahan satu kalimat yang kasar jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah perdebatan.
Keluarga yang Kuat Dibangun dengan Pengertian dan Kasih
Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima, bukan tempat di mana setiap kekurangan selalu dipersoalkan. Suami dan istri mempunyai keterbatasan. Orang tua dapat melakukan kesalahan. Anak-anak masih dalam proses belajar. Karena itu, menurut saya, keluarga membutuhkan lebih banyak pengertian, kesabaran, komunikasi, dan kemauan untuk saling memaafkan. Ketika seseorang sedang lelah, berikan ruang.
Ketika melakukan kesalahan, bantu memperbaiki. Ketika sedang menghadapi masalah, jangan menambah bebannya dengan kata-kata yang menyakitkan. Hal-hal sederhana seperti menghargai usaha, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, mendengarkan, dan memberikan perhatian sering kali jauh lebih berarti daripada yang kita sadari.
Pada akhirnya, kehidupan tidak akan pernah mempertemukan kita dengan manusia yang sepenuhnya sempurna. Kita sendiri pun mempunyai kekurangan yang mungkin selama ini diterima dan dimaklumi oleh orang lain.
Saran saya sederhana jangan terlalu sibuk mencari kekurangan orang yang kita sayangi. Belajarlah memahami keadaan mereka, jaga ucapan ketika sedang kecewa, dan hargai setiap usaha kecil yang mereka lakukan.
Karena menurut saya, hubungan yang kuat bukan hubungan tanpa kesalahan, tetapi hubungan yang tetap memiliki kasih, pengertian, dan kesediaan untuk saling memperbaiki ketika ketidaksempurnaan muncul.(BN)
