Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Dalam kehidupan, pekerjaan, maupun dunia usaha, kita sering terlalu fokus pada hasil yang ingin diperoleh. Padahal menurut saya, hasil yang baik seharusnya dimulai dari cara berpikir, cara berbicara, dan cara kita memperlakukan orang lain. Kebaikan bukan sekadar tindakan sesaat, tetapi bagian dari karakter yang dibangun secara konsisten. Gagasan tentang karmic management memberikan satu pelajaran menarik sebelum terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin kita dapatkan, kita perlu bertanya terlebih dahulu, apa yang sudah kita berikan kepada orang lain? Prinsip ini tidak harus dipahami secara sempit sebagai melakukan sesuatu lalu menunggu balasan, tetapi sebagai cara membangun kehidupan berdasarkan ketulusan, integritas, dan hubungan yang sehat.
Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Harus Sejalan
Menurut saya, kebaikan dimulai dari pikiran. Apa yang terus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita berbicara, dan ucapan pada akhirnya akan memengaruhi tindakan. Karena itu, biasakan melihat orang lain dengan niat yang baik, berbicara dengan menghargai, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab. Integritas muncul ketika apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan tidak saling bertentangan. Dalam pekerjaan maupun organisasi, karakter seperti inilah yang membangun kepercayaan.
Membantu Orang Lain Tidak Harus Selalu Berupa Uang
Kita dapat membantu orang lain melalui banyak cara memberikan informasi, membuka jaringan, mempertemukan orang dengan peluang, berbagi pengalaman, memberikan kesempatan kerja, atau membantu seseorang menyelesaikan persoalannya. Dalam dunia usaha, misalnya, hubungan dengan pelanggan, pemasok, mitra, maupun pekerja tidak seharusnya hanya dipandang sebagai transaksi. Menurut saya, bisnis yang kuat dibangun melalui hubungan yang saling memberikan manfaat. Ketika kita membantu orang lain berkembang, hubungan jangka panjang dan kepercayaan juga ikut tumbuh.
Berbuat Baik dengan Tulus, Jangan Sibuk Menghitung Balasannya
Kebaikan kehilangan maknanya apabila selalu dilakukan dengan perhitungan, “Kalau saya membantu dia, apa yang akan saya dapat?” Menurut saya, lakukan sesuatu yang baik karena memang itu hal yang benar untuk dilakukan. Kita memang tidak dapat memastikan kapan atau dari mana sebuah kebaikan akan kembali kepada kita. Tetapi satu hal yang jelas, perilaku yang baik membangun reputasi, kepercayaan, hubungan, dan karakter. Semua itu merupakan modal penting dalam kehidupan maupun pekerjaan. Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan bagi orang lain. Kesuksesan yang hanya dinikmati sendiri akan mempunyai makna yang berbeda dibandingkan keberhasilan yang sekaligus membuka jalan bagi orang lain.
Saran saya sederhana pikirkan yang baik, ucapkan yang baik, dan lakukan yang baik dengan tulus. Bantulah orang lain ketika kita mempunyai kemampuan, jagalah hubungan dengan integritas, dan jangan menjadikan setiap kebaikan sebagai transaksi.
Karena menurut saya, karakter baik mungkin tidak selalu memberikan hasil secara instan, tetapi dalam jangka panjang ia membangun sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan, hubungan yang sehat, ketenangan hati, dan kehidupan yang mempunyai manfaat.(BN)
