Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Ada sebuah kalimat yang dikaitkan dengan pemikiran George Orwell: “Tanpa uang, kau tidak dapat dicintai, meskipun bisa berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat.” Kalimat ini terdengar keras, bahkan mungkin terasa terlalu materialistis. Namun apabila kita melihatnya lebih dalam, menurut saya pesan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi kritik terhadap kenyataan kehidupan sosial manusia. Uang memang mempunyai peranan besar dalam kehidupan. Dengan uang seseorang memenuhi kebutuhan keluarga, memperoleh pendidikan, menjaga kesehatan, mempunyai tempat tinggal, menjalankan usaha, bahkan membuka kesempatan untuk membantu orang lain. Karena itu, mengatakan bahwa uang sama sekali tidak penting juga tidak realistis. Tetapi persoalannya muncul ketika uang berubah dari alat menjadi ukuran nilai manusia.
Ketika Keadaan Ekonomi Mengubah Cara Orang Memperlakukan Kita
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah melihat seseorang yang ketika berada dalam posisi baik mempunyai banyak teman, banyak orang mendekat, telepon sering berdering, dan undangan datang dari berbagai arah. Tetapi ketika keadaan ekonominya memburuk, perlahan sebagian orang mulai menjauh. Di sinilah kalimat Orwell terasa sangat tajam. Bukan berarti semua hubungan manusia dibangun karena uang. Masih banyak keluarga, pasangan, sahabat, dan orang-orang baik yang tetap setia dalam keadaan sulit. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa status ekonomi terkadang memengaruhi cara masyarakat memandang seseorang. Orang yang mempunyai uang sering lebih mudah didengar. Orang yang mempunyai jabatan lebih mudah mendapatkan perhatian. Sementara mereka yang sedang berada dalam kesulitan terkadang justru kehilangan ruang untuk didengarkan. Menurut saya, keadaan seperti inilah yang seharusnya kita renungkan.
Cinta yang Hanya Hadir Ketika Kita Berada di Atas Perlu Dipertanyakan
Ada hubungan yang tampak begitu dekat ketika semuanya berjalan baik. Tetapi ujian sebenarnya sering datang ketika keadaan berubah. Ketika usaha mengalami masalah, jabatan berakhir, penghasilan menurun, atau kehidupan tidak lagi semudah sebelumnya, kita mulai mengetahui siapa yang benar-benar hadir dan siapa yang hanya menikmati keadaan kita. Karena itu, menurut saya, jangan menilai kekuatan sebuah hubungan hanya ketika kehidupan sedang berada di atas. Lihatlah siapa yang tetap berada di samping kita ketika keadaan menjadi sulit. Kesetiaan tidak selalu terlihat pada pesta keberhasilan. Sering kali kesetiaan justru terlihat ketika seseorang bersedia duduk bersama kita pada masa paling sulit.
Jangan Pula Menganggap Uang Tidak Penting
Sebaliknya, pesan ini juga jangan membuat kita terjebak pada pemikiran bahwa uang tidak diperlukan. Menurut saya, selama masih mampu bekerja, seseorang harus tetap berusaha membangun kemandirian ekonomi. Bekerjalah. Bangun usaha. Tingkatkan kemampuan. Kelola keuangan dengan baik. Jangan menggantungkan seluruh kehidupan kepada orang lain apabila kita masih mempunyai kemampuan untuk berusaha. Sebab uang memang bukan segalanya, tetapi banyak persoalan kehidupan menjadi jauh lebih berat ketika seseorang tidak mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup. Kemandirian ekonomi juga memberikan ruang bagi seseorang untuk mempunyai pilihan dalam hidup. Karena itu, bekerja mencari rezeki bukan sesuatu yang harus dipandang rendah. Justru apabila dilakukan secara benar, jujur, dan bertanggung jawab, bekerja merupakan bagian dari menjaga martabat diri dan keluarga.
Nilai Manusia Tidak Boleh Ditentukan oleh Isi Rekeningnya
Namun ada satu batas yang menurut saya sangat penting. Jangan pernah mengukur harga diri manusia hanya berdasarkan berapa banyak uang yang dimilikinya. Orang yang hari ini sedang kesulitan ekonomi belum tentu malas. Bisa saja ia pernah mengalami kegagalan usaha, kehilangan pekerjaan, menghadapi musibah keluarga, atau sedang berjuang bangkit dari keadaan yang sangat berat. Demikian pula orang yang mempunyai kekayaan belum tentu lebih mulia daripada mereka yang hidup sederhana. Nilai manusia terlihat dari karakter, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kepedulian, dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Harta dapat berubah. Jabatan dapat berakhir. Usaha dapat naik dan turun. Tetapi karakter seseorang akan terlihat terutama ketika keadaan hidupnya berubah.
Ketika Kita Berhasil, Jangan Lupa Bagaimana Rasanya Sedang Kesulitan
Menurut saya, bagian paling penting dari renungan ini justru bukan hanya tentang bagaimana kita ingin diperlakukan ketika tidak mempunyai uang. Pertanyaannya juga harus dibalik: Bagaimana kita memperlakukan orang lain yang sedang tidak mempunyai apa-apa? Apakah kita masih menghormatinya? Apakah kita masih menjawab teleponnya? Apakah kita masih menganggapnya teman? Apakah kita masih bersedia duduk dan mendengarkan ceritanya? Jangan sampai kita mengeluhkan dunia yang materialistis, tetapi ketika memperoleh keberhasilan, kita sendiri hanya mendekati orang berdasarkan keuntungan.
Uang adalah Alat, Bukan Ukuran Kemanusiaan
Menurut saya, uang tetap harus dicari, dikelola, dan digunakan secara bertanggung jawab. Kita tidak perlu memusuhi kekayaan. Bahkan apabila kekayaan diperoleh dengan cara yang benar, ia dapat menjadi sarana yang sangat besar untuk membantu keluarga dan masyarakat. Tetapi jangan sampai uang menjadi satu-satunya ukuran dalam melihat manusia. Carilah uang, tetapi jangan kehilangan hati. Bangun kekayaan, tetapi jangan kehilangan keluarga dan sahabat. Kejarlah keberhasilan, tetapi jangan sampai keberhasilan membuat kita hanya menghargai orang yang berada di atas. Pada akhirnya, mungkin salah satu ujian terbesar kehidupan bukan hanya bagaimana kita bertahan ketika tidak mempunyai apa-apa, tetapi juga bagaimana karakter kita ketika suatu hari mempunyai banyak hal. Sebab dunia mungkin sering menilai seseorang dari apa yang dimilikinya. Tetapi menurut saya, nilai sesungguhnya seseorang terlihat dari siapa dirinya ketika tidak mempunyai apa-apa, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika telah mempunyai segalanya.
