Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Ada satu masa dalam kehidupan ketika kita mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan, mempertahankan, dan menggenggam sebanyak mungkin. Ada waktunya justru kita perlu belajar melepaskan. Video ini mengangkat pesan yang menurut saya sangat menarik, khususnya bagi mereka yang telah memasuki usia 50 tahun ke atas. Setelah melewati perjalanan hidup yang panjang, kita tentu telah mengalami banyak hal: keberhasilan, kegagalan, persahabatan, kehilangan, kekecewaan, perjuangan keluarga, pekerjaan, hingga berbagai perubahan dalam kehidupan. Pada usia seperti ini, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi hanya, “Apa lagi yang harus saya dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang sebenarnya sudah waktunya saya lepaskan agar hidup menjadi lebih damai?” Menurut saya, inilah salah satu pesan penting dari video tersebut.
Lepaskan Keinginan untuk Selalu Disukai
Sepanjang hidup, tanpa sadar kita sering terlalu memikirkan penilaian orang lain. Kita takut dianggap tidak baik, takut dibicarakan, takut mengecewakan, bahkan terkadang memaksakan diri untuk memenuhi harapan semua orang. Padahal kita tidak mungkin dapat menyenangkan semua orang. Sekalipun niat kita baik, tetap akan ada orang yang salah memahami. Sekalipun kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetap mungkin ada orang yang tidak menyukai keputusan kita. Karena itu, pada suatu titik kita harus mempunyai keberanian untuk berkata: saya akan tetap berbuat baik, tetapi saya tidak akan menjalani seluruh hidup hanya untuk mendapatkan persetujuan orang lain. Menurut saya, kedamaian mulai muncul ketika kita tidak lagi terlalu sibuk membuktikan diri kepada semua orang.
Lepaskan Dendam dan Luka yang Terlalu Lama Disimpan
Perjalanan hidup hampir tidak mungkin bebas dari kekecewaan. Kita mungkin pernah disakiti, dikhianati, diremehkan, atau diperlakukan dengan cara yang sulit dilupakan. Tetapi masa lalu tidak dapat kita ubah. Dendam juga tidak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Justru apabila terus disimpan, luka tersebut dapat mengambil hari-hari yang seharusnya masih dapat kita nikmati. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Menurut saya, memaafkan adalah cara kita berkata kepada diri sendiri bahwa kejadian masa lalu tidak boleh terus menentukan kebahagiaan kita hari ini. Ada beban yang memang harus diperjuangkan, tetapi ada pula beban yang sudah waktunya kita letakkan.
Lepaskan Kebiasaan Membandingkan Hidup dengan Orang Lain
Pada usia 50 tahun ke atas, kita mungkin melihat teman sebaya yang kehidupannya tampak lebih berhasil. Ada yang mempunyai rumah lebih besar, usaha lebih maju, jabatan lebih tinggi, atau anak-anak yang terlihat telah mencapai banyak hal. Lalu tanpa sadar kita melihat kehidupan sendiri dan merasa masih kurang. Padahal kita tidak pernah mengetahui seluruh cerita kehidupan seseorang. Kita hanya melihat bagian yang tampak dari luar. Menurut saya, jangan mengukur perjalanan kita dengan penggaris kehidupan orang lain. Setiap orang mempunyai perjalanan, perjuangan, kesempatan, ujian, dan waktunya masing-masing. Apa yang sudah kita miliki hari ini pun perlu disyukuri. Keluarga yang masih dapat ditemui, tubuh yang masih dapat digunakan untuk beraktivitas, sahabat yang masih dapat diajak berbicara, serta kesempatan untuk menjalani hari baru merupakan bagian dari kekayaan kehidupan. Jangan sampai karena terus melihat milik orang lain, kita kehilangan kemampuan menikmati apa yang sudah ada di tangan kita sendiri.
Lepaskan Keinginan untuk Mengontrol Seluruh Kehidupan Anak
Menurut saya, bagian ini sangat penting bagi orang tua. Ketika anak masih kecil, orang tua menentukan banyak hal dalam kehidupannya. Kita memilih yang kita anggap terbaik karena ingin melindungi mereka. Tetapi anak akan tumbuh. Pada akhirnya mereka mempunyai jalan, pilihan, pekerjaan, keluarga, dan keputusan hidupnya sendiri. Sebagai orang tua, kita tentu tetap mempunyai kewajiban memberikan nasihat. Tetapi ada perbedaan antara memberikan nasihat dengan mengendalikan seluruh kehidupan anak. Kita tidak dapat selamanya memegang tangan mereka dan menentukan ke mana mereka harus berjalan. Ketika mereka sudah dewasa, berikan ruang untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri. Dan apabila suatu hari mereka jatuh, rumah seharusnya tetap menjadi tempat mereka dapat kembali. Bukan untuk terus dihakimi, tetapi untuk kembali mendapatkan kekuatan.
Lepaskan Ketakutan Berlebihan tentang Hari Esok
Semakin usia bertambah, pikiran tentang masa depan mungkin semakin sering muncul. Bagaimana kesehatan nanti? Bagaimana keadaan keluarga? Apakah keuangan cukup? Bagaimana kehidupan ketika tenaga tidak lagi sekuat sekarang? Semua kekhawatiran itu wajar. Namun menurut saya, terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum terjadi justru dapat membuat kita kehilangan ketenangan terhadap kehidupan yang sedang kita jalani hari ini. Kita memang tidak mempunyai kepastian tentang besok. Tetapi kita masih mempunyai hari ini. Selama masih diberikan kesehatan, jagalah tubuh. Selama keluarga masih ada, luangkan waktu bersama mereka. Selama masih dapat bekerja, lakukan dengan baik. Selama masih mempunyai kesempatan memperbaiki hubungan, jangan terlalu lama menundanya. Masa depan perlu dipersiapkan, tetapi jangan sampai ketakutan terhadap masa depan membuat kita lupa menjalani kehidupan sekarang.
Semakin Dewasa, Semakin Tahu Apa yang Layak Dipertahankan
Menurut saya, salah satu bentuk kedewasaan bukan hanya kemampuan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi juga keberanian mengetahui kapan harus melepaskannya. Lepaskan kebutuhan untuk selalu disukai. Lepaskan dendam yang membuat hati berat. Lepaskan kebiasaan membandingkan perjalanan hidup. Lepaskan keinginan mengendalikan seluruh keputusan anak. Dan lepaskan ketakutan berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Bukan berarti kita menjadi tidak peduli. Justru kita sedang belajar menggunakan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang benar-benar mempunyai arti. Pada akhirnya, semakin bertambah usia, mungkin hidup memang seharusnya menjadi lebih sederhana. Kita tidak lagi perlu memenangkan setiap perdebatan, menjawab setiap komentar, ataupun membuktikan sesuatu kepada semua orang. Yang jauh lebih penting adalah mempunyai hati yang tenang, hubungan yang baik dengan keluarga, kesehatan yang terus dijaga, serta kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Menurut saya, usia bukan hanya tentang berapa lama kita telah hidup. Usia seharusnya membuat kita semakin mampu memahami mana yang harus tetap kita genggam dan mana yang sudah waktunya kita lepaskan. Karena hidup yang damai bukan berarti kehidupan tanpa persoalan. Kadang-kadang kedamaian justru datang ketika kita akhirnya mempunyai keberanian untuk berkata: yang sudah berlalu, biarlah berlalu; yang tidak dapat kita kendalikan, jangan terus kita paksakan; dan waktu yang masih ada, mari kita jalani dengan sebaik-baiknya.
