Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Video ini menyampaikan sebuah pelajaran yang menurut saya sangat penting dalam kehidupan, pekerjaan, dunia usaha, bahkan dalam pemerintahan: jangan terburu-buru memberikan solusi sebelum kita benar-benar memahami apa masalahnya. Sering kali kita seperti seorang dokter yang salah mendiagnosis penyakit. Karena diagnosisnya keliru, obat yang diberikan pun menjadi keliru. Bukannya menyembuhkan, justru dapat membuat keadaan semakin buruk. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita melihat seseorang tidak berkembang, kemudian dengan cepat mengatakan bahwa orang tersebut malas. Kita melihat usaha tidak maju, lalu langsung menyimpulkan bahwa masalahnya kekurangan modal. Kita melihat pelayanan publik tidak berjalan baik, kemudian beranggapan bahwa solusinya cukup dengan membuat aturan baru. Padahal, apa yang terlihat di permukaan belum tentu merupakan akar persoalan sebenarnya. Menurut saya, di sinilah pentingnya mempunyai struktur berpikir yang baik: mampu memisahkan antara gejala, masalah, penyebab, dan solusi.
Jangan Terlalu Cepat Memberi Label
Salah satu contoh menarik dalam video tersebut adalah mengenai kata “malas” dan “tidak produktif.” Seseorang yang terlihat tidak produktif belum tentu malas. Mungkin ia tidak mempunyai akses yang memadai, tidak memiliki keterampilan, lingkungan kerjanya tidak mendukung, tidak memahami apa yang harus dilakukan, tidak mempunyai kesempatan, atau sedang menghadapi persoalan lain yang tidak terlihat oleh kita. Kalau penyebab sebenarnya adalah keterbatasan akses, tetapi kita memberikan solusi berupa motivasi, tentu persoalannya belum tentu selesai. Sebaliknya, kalau seseorang sebenarnya mempunyai kemampuan dan kesempatan tetapi tidak memiliki disiplin, maka masalahnya juga berbeda. Karena itu menurut saya, sebelum mengatakan seseorang malas, gagal, tidak mampu, atau tidak produktif, kita perlu bertanya: mengapa kondisi itu terjadi? Pertanyaan “mengapa?” sering kali jauh lebih penting daripada sekadar mencari jawaban cepat.
Gejala Bukan Selalu Akar Masalah
Dalam kehidupan kita sering hanya melihat gejala. Omzet usaha turun adalah gejala. Pelayanan masyarakat lambat adalah gejala. Kemiskinan dan pengangguran juga merupakan kondisi yang dapat mempunyai banyak penyebab. UMKM tidak berkembang pun tidak selalu berarti pelakunya tidak bekerja keras. Kalau sebuah UMKM sepi pembeli, apakah masalahnya produknya, harganya, lokasinya, promosinya, pelayanannya, pengelolaan keuangannya, atau memang pasar terhadap produk tersebut sudah berubah? Semua membutuhkan solusi yang berbeda. Memberikan tambahan modal kepada usaha yang sebenarnya bermasalah dalam pemasaran bahkan dapat menambah persoalan karena modal tersebut bisa berubah menjadi beban baru. Solusi yang baik lahir dari diagnosis yang benar.
Cara Berpikir Ini Penting dalam Pemerintahan
Prinsip yang sama menurut saya harus digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembuatan kebijakan publik. Ketika masyarakat menghadapi suatu persoalan, pemerintah tidak boleh hanya bereaksi terhadap apa yang terlihat di permukaan. Misalnya pelayanan perizinan lambat. Jangan langsung beranggapan solusinya adalah menambah aturan. Harus diperiksa terlebih dahulu: apakah persoalannya berada pada regulasi, sumber daya manusia, sistem digital, koordinasi antarinstansi, kewenangan yang tumpang tindih, atau prosedur yang memang terlalu panjang? Kalau persoalannya birokrasi yang terlalu panjang tetapi obatnya justru menambah prosedur baru, maka kita sedang memberikan obat yang salah terhadap penyakit yang salah kita diagnosis. Akibatnya, masyarakatlah yang akhirnya menanggung beban. Karena itu, sebagai bagian dari DPRD Kota Depok, saya melihat evaluasi kebijakan sangat penting. Pemerintah dan DPRD tidak cukup hanya bertanya, “program apa yang sudah dibuat?”, tetapi juga harus berani bertanya, “apakah program tersebut benar-benar menyelesaikan akar masalah masyarakat?”
Dalam Usaha Pun Kita Harus Belajar Mendiagnosis
Pengalaman saya selama puluhan tahun bekerja di dunia perbankan sekaligus berinteraksi dengan pelaku usaha membuat saya semakin memahami bahwa persoalan bisnis sering kali tidak sesederhana kekurangan modal. Ada usaha yang memiliki modal tetapi tidak mempunyai pasar. Ada yang produknya bagus tetapi pencatatan keuangannya buruk. Ada yang omzetnya besar tetapi keuntungan sebenarnya kecil. Ada yang mempunyai pelanggan tetapi tidak mampu menjaga kualitas. Ada pula yang terus menambah utang karena menganggap modal adalah satu-satunya persoalan, padahal kebocoran sebenarnya berada pada pengelolaan keuangan. Karena itulah pelaku UMKM harus membiasakan diri bertanya: apa sebenarnya masalah usaha saya? Jangan langsung mencari obat sebelum mengetahui penyakitnya. Kadang-kadang yang diperlukan bukan tambahan modal, tetapi perubahan strategi pemasaran. Kadang yang dibutuhkan bukan membuka cabang baru, tetapi memperbaiki kualitas produk. Kadang bukan menambah pegawai, tetapi memperbaiki sistem kerja. Kemampuan menganalisis masalah seperti inilah yang menurut saya membedakan antara sekadar bekerja keras dengan bekerja keras sekaligus bekerja cerdas.
Urai Masalah Sampai Menemukan Akar Persoalan
Ketika menghadapi persoalan, jangan langsung panik melihat besarnya masalah. Urai satu per satu. Apa yang terjadi? Mengapa itu terjadi? Sejak kapan terjadi? Apa faktor yang paling besar pengaruhnya? Mana yang hanya merupakan gejala dan mana yang merupakan penyebab? Apa yang berada dalam kemampuan kita untuk diperbaiki? Barulah setelah itu menentukan langkah. Cara berpikir seperti ini membuat kita tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak mudah mengambil kesimpulan, dan tidak menghabiskan energi untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya bukan akar masalah.
Kesuksesan Juga Harus Dilihat dengan Cara Berpikir yang Benar
Video tersebut juga mengingatkan kita agar tidak terlalu sederhana melihat keberhasilan seseorang. Ketika melihat orang lain lebih berhasil, jangan hanya mengatakan bahwa ia lebih pintar atau lebih beruntung. Kita dapat mempelajarinya lebih dalam. Apakah ia lebih disiplin? Apakah penggunaan waktunya lebih produktif? Apakah jaringan yang dimilikinya lebih luas? Apakah pengetahuannya lebih baik? Apakah ia mempunyai kebiasaan tertentu yang terus dilakukan secara konsisten? Ketika penyebabnya dapat diurai, kesuksesan tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang misterius. Kita mendapatkan indikator yang dapat dipelajari dan diperbaiki dalam diri kita sendiri. Menurut saya, kemajuan dimulai ketika kita berhenti hanya mengeluhkan hasil dan mulai berani memeriksa penyebabnya.
Jangan Memberikan Obat Sebelum Mengetahui Penyakitnya
Dalam kehidupan, usaha, organisasi maupun pemerintahan, kita akan selalu berhadapan dengan masalah. Masalah bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang berbahaya justru ketika kita salah memahami masalah tetapi sangat yakin dengan solusi kita sendiri. Karena keputusan yang dibuat berdasarkan diagnosis yang salah dapat menghasilkan persoalan yang jauh lebih besar. Maka biasakan berpikir terstruktur. Dengarkan fakta. Periksa penyebabnya. Bedakan antara gejala dengan akar persoalan. Jangan terburu-buru memberikan label, apalagi menyalahkan. Solusi yang tepat tidak dimulai dari seberapa cepat kita menjawab, tetapi dari seberapa benar kita memahami masalah. Menurut saya, kemampuan memahami masalah dengan benar merupakan salah satu modal terpenting untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana—baik bagi diri sendiri, dunia usaha, organisasi, maupun dalam melayani masyarakat.
