Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Video yang menampilkan Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., M.P.A., Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, memberikan pesan yang sangat penting, khususnya bagi mahasiswa dan sarjana hukum. Beliau menyampaikan dua kemampuan yang menurutnya sangat dibutuhkan oleh seorang sarjana hukum: mampu menulis dengan baik dan mampu berbicara dengan baik.
Menurut saya, pesan ini sederhana, tetapi sangat kuat. Sarjana hukum tidak cukup hanya menguasai pasal, teori, dan memiliki ijazah. Pengetahuan hukum harus mampu dituangkan dalam tulisan yang mudah dipahami dan disampaikan melalui argumentasi yang jelas, logis, serta meyakinkan.
Prof. Saldi Isra juga memberikan contoh dari perjalanan hidupnya sendiri. Sebelum menjadi Hakim Konstitusi, beliau telah menulis lebih dari 600 artikel di berbagai surat kabar di Jakarta. Kebiasaan menulis tersebut kemudian menjadi salah satu modal yang membantunya memasuki berbagai forum dan ruang intelektual pada tingkat yang lebih tinggi.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kemampuan yang kita bangun hari ini mungkin tidak langsung memberikan hasil, tetapi dapat menjadi modal besar pada masa depan. Menulis melatih seseorang berpikir terstruktur, membaca persoalan secara mendalam, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Sementara kemampuan berbicara membuat ilmu yang dimiliki dapat disampaikan dan dipahami oleh orang lain.
Apalagi sekarang ruang untuk menunjukkan kemampuan jauh lebih terbuka. Dahulu seseorang mungkin harus menembus surat kabar, seminar, atau forum tertentu agar pemikirannya dikenal. Sekarang mahasiswa dapat menulis melalui media digital, membuat analisis di media sosial, berdiskusi melalui podcast, video, maupun berbagai platform lainnya. Dari rumah sekalipun, gagasan seseorang dapat dilihat dan didengar masyarakat dari berbagai daerah.
Namun menurut saya, teknologi hanyalah alat. Yang paling penting tetap isi pemikiran, kualitas argumentasi, integritas, dan konsistensi untuk terus belajar. Jangan mengejar terkenal terlebih dahulu tanpa membangun kemampuan. Bangunlah kompetensi, karena ketika seseorang memiliki ilmu dan kemampuan komunikasi yang baik, kesempatan akan lebih mudah datang.
Pesan Prof. Saldi Isra ini juga relevan bukan hanya bagi mahasiswa hukum. Dalam bidang apa pun, kita membutuhkan kemampuan untuk berpikir, menulis, berbicara, dan menyampaikan gagasan.
Karena itu saya ingin mendorong generasi muda: jangan kuliah hanya untuk mengejar gelar. Gunakan masa kuliah untuk membangun kemampuan yang akan menjadi bekal puluhan tahun ke depan. Banyaklah membaca, berlatih menulis, berani berdiskusi, dan belajar berbicara dengan baik.
Ijazah mungkin membuka pintu pertama, tetapi kemampuan, integritas, kerja keras, dan konsistensilah yang akan menentukan seberapa jauh kita dapat melangkah.
